
batampos – Korea Selatan kini mencatat salah satu tingkat insiden kanker usus besar tertinggi di dunia. Dalam kurun 30 tahun terakhir, angka kejadian kanker kolorektal di Asia Timur, termasuk Korea, meningkat dua hingga empat kali lipat.
“Pergeseran pola makan ke gaya ala Barat dengan konsumsi tinggi lemak, kalori, dan daging olahan menjadi penyebab utama lonjakan kasus. Alkohol, terutama soju, adalah faktor paling kuat,” ujar Profesor Kang Dae-hee dari Seoul National University College of Medicine, dikutip dari Korea Joongang Daily, Selasa (26/8).
Soju disebut sebagai minuman nasional Korea karena rasanya ringan, harga terjangkau, dan mudah ditemukan di restoran, bar, hingga minimarket. Konsumsi lebih dari 30 gram alkohol per hari disebut meningkatkan risiko kanker kolorektal hingga 64%.
Selain alkohol, konsumsi daging merah dan daging olahan juga meningkatkan risiko kanker usus sebesar 18%. Sebaliknya, konsumsi produk susu dan ikan teri mampu menurunkan risiko kanker usus hingga 7% karena kandungan kalsium di dalamnya.
“Kalsium dapat mengikat asam lemak dan asam empedu di usus, sehingga mengurangi dampak karsinogen,” kata tim peneliti dari Korea Joongang Daily.
Profesor Kang menegaskan, pentingnya perubahan gaya hidup sehat di Asia untuk menekan risiko kanker usus.
Mengurangi konsumsi alkohol, membatasi daging merah dan olahan, rutin berolahraga, serta meningkatkan asupan sayur, buah, biji-bijian, dan protein tanpa lemak, diyakini bisa menurunkan risiko hingga 15%.
“Analisis ini menunjukkan, strategi pencegahan kanker kolorektal di Asia bisa dimulai dengan mengurangi alkohol dan daging olahan,” ujar Kang. (*)
Reporter: Juliana Belence
