Minggu, 25 Januari 2026

Kisah di Balik Forever 21, Dari Toko Kecil Menjadi Raksasa Retail Fashion Dunia yang Kemudian Bangkrut

Berita Terkait

Batampos – Namanya Do Won Chang dan Jin Sook Chang. Pasangan imigran asal Korea Selatan yang pindah ke Los Angeles, Amerika Serikat (AS), 1981 lalu. Tidak punya koneksi, tidak bisa berbahasa Inggris, tidak ada modal besar, tapi akhirnya atas keberanian, mereka membuka toko kecil yang pada akhirnya mendunia, yang kini dikenal sebagai Forever 21.

Gerai Forever 21 di Jepang. F The Business of Fashion

Forever 21 bermula sebagai toko kecil bernama Fashion 21. Didirikan di Los Angeles oleh pasangan ini pada 1984, atau setelah tiga tahun mereka bermukim di AS.

Sebelum memulai bisnis ini, tiga tahun pertamanya di AS tidak mulus. Dia menyebutnya sebagai momen terberat keluarganya. Do Won bekerja serabutan menjadi petugas bensin, barista, hingga menjadi penjaga toko dengan lebih dari 100 jam kerja per minggu. Sedangkan istrinya, Jin Sook Chang bekerja sebagai penata rambut.

Saat ia bekerja sebagai petugas bensin, ia memperhatikan, orang yang membeli bensin pakai mobil mewah ternyata sebagian besar kerja di industri fesyen. Bermula dari situ, hanya dengan tabungan sekitar US$11.000, dia membuka toko pakaian miliknya di LA. Pangsa pasarnya adalah komunitas Korea-Amerika dengan harga pakaian yang sangat terjangkau.

Tahun 1984 itu menjadi titik balik hidupnya. Toko miliknya itu, Fashion 21 hanya seluas 83 meter persegi. Saat itu, orang-orang terdekatnya menganggapnya gila, tapi tetap, bisnis ini mereka jalani. Tahun pertama, toko miliknya ini berhasil meraih penjualan 700 ribu dolar AS.

BACA JUGA:
Suzuki Indonesia Resmikan Ekspor Fronx dan Satria, Perkuat Peran Indonesia Sebagai Pusat Produksi di Asia Tenggara

Dari situ, setiap enam bulan, mereka membuka gerai baru. Pendapatan meningkat, mereka memperluas pasar dan basis pelanggan mereka. Kegiatan itu dilakukan secara konsisten.

Semakin maju, pasangan Chang pun mengganti nama toko milik mereka. Dari Fashion 21 menjadi Forever 21. Brand ini mencerminkan visi mereka dalam menumbuhkan merek yang identik dengan semangat muda dan fashion yang selalu segar.

dari toko pakaian, mereka pun berubah haluan menjadi fast fashion. Seluruh tokonya wajib mengikuti tren mode terkini dan menjualnya dengan harga rendah agar dapat diakses berbagai kalangan.

Forever 21 berkembang pesat. Dalam kurun waktu beberapa dekade, mereka membuka 800 ratus toko di 50 negara.  Gerai mereka bahkan sampai masuk ke Indonesia di 2015 lalu, tepatnya di Lippo Mal Puri, Jakarta Barat sejak 10 tahun lalu.

Tanggap Merespon Tren tapi Lamban Beradaptasi di Era Digital

Rahasia kesuksesan mereka terletak pada keseimbangan antara tren mode yang sedang populer dan harga yang sangat bersaing. Strategi ini menarik banyak pembeli muda yang ingin tampil modis tanpa mengeluarkan banyak uang. Demikian dilansir dari Muda Cuan Academy.

Selain itu, pasangan pendiri terus menjaga semangat kewirausahaan dan adaptasi cepat terhadap perubahan pasar.

Meski begitu, Forever 21 menghadapi tantangan besar di era digital. Mereka kesulitan bersaing dengan platform fast fashion daring seperti Shein dan Temu. Brand ini mengajukan bangkrut untuk kedua kalinya, di 2025 ini.

Kisah Forever 21 ini menjadi pelajaran penting bagi pengusaha khususnya di bidang retail dan fesyen, bahwa sukses besar pun bisa datang dari akar yang sederhana, tetapi untuk bertahan, perlu terus berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update