
batampos –
Kehidupan sehari-hari kini nyaris tak bisa lepas dari media sosial. Platform ini bahkan kerap menjadi pedoman dalam menentukan arah hidup. Namun, kebiasaan tersebut bisa memunculkan fenomena yang disebut doomscrolling.
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi berita negatif secara berlebihan secara online, khususnya di media sosial.
Istilah ini mulai populer sejak pandemi COVID-19, ketika banyak orang berusaha tetap update, tetapi justru terjebak dalam siklus konten negatif yang sulit dihentikan.
Dikutip dari Verywell Health, berikut tujuh dampak negatif doomscrolling pada kesehatan mental:
1. Muncul kecemasan, depresi, dan stres
Doomscrolling dapat memperdalam rasa cemas, pesimis, bahkan memicu pikiran eksistensial penuh ketakutan.
2. Gangguan tidur dan kesehatan fisik
Konsumsi konten negatif hingga larut malam memicu gangguan tidur. Efeknya, toleransi emosional menurun di hari berikutnya. Gejala fisik seperti sakit kepala, tegang otot, nyeri leher, bahu, hingga turunnya nafsu makan juga bisa muncul.
3. Rasa putus asa
Paparan konten negatif terus-menerus membuat pandangan hidup menjadi suram hingga kehilangan arah atau harapan pada masa depan.
4. Isolasi sosial
Terlalu lama online membuat interaksi sosial di dunia nyata terabaikan. Kondisi ini memicu kesepian, keterasingan, hingga rasa tidak percaya pada orang lain.
5. Fenomena otak “Popcorn Brain”
Menurut Harvard Medical School, doomscrolling dapat memicu overstimulasi mental yang disebut popcorn brain, membuat kondisi mental kacau dan sulit fokus.
6. Penyebab neurobiologis dan algoritma
Manusia lebih mudah tertarik pada informasi mengancam. Algoritma media sosial mengeksploitasi kecenderungan ini dengan menyajikan konten negatif untuk meningkatkan engagement, sehingga membuat pengguna semakin kecanduan.
Fenomena doomscrolling kini banyak mendominasi kehidupan tanpa disadari. Para ahli menyarankan untuk membatasi waktu di media sosial dan mengganti dengan aktivitas yang lebih positif demi menjaga kesehatan mental.
Reporter: Juliana Belence
