Kamis, 22 Januari 2026

Kenapa Kentut Bisa Bau? Ini Penjelasan Medis dan Penyebabnya

Berita Terkait

Ilustrasi bau
Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Kentut adalah proses alami tubuh yang dilakukan setiap orang, namun aromanya sering kali membuat orang di sekitar menutup hidung. Dalam dunia medis, kentut atau flatus merupakan hasil dari penumpukan gas di saluran pencernaan.

Gas tersebut terbentuk akibat udara yang tertelan saat makan atau minum, proses fermentasi makanan oleh bakteri di usus besar, serta reaksi kimia alami tubuh ketika mencerna protein, lemak, dan karbohidrat kompleks.

“Rata-rata manusia bisa kentut sekitar 10 hingga 20 kali per hari, dan sebagian besar gas yang keluar sebenarnya tidak berbau,” tulis Cleveland Clinic, dikutip Rabu (8/10).

Penyebab Kentut Menjadi Bau

Aroma tak sedap pada kentut disebabkan oleh senyawa sulfur yang dihasilkan selama proses pencernaan. Beberapa senyawa utama yang berperan antara lain:

1. Hidrogen sulfida (H₂S) – menimbulkan bau seperti telur busuk.

2. Metanthiol (CH₃SH) – beraroma seperti kubis busuk.

3. Dimetil sulfida (CH₃SCH₃) – berbau tajam dan tidak sedap.

Kentut yang mengandung kadar sulfur tinggi biasanya muncul setelah mengonsumsi makanan berprotein hewani seperti daging merah, telur, dan produk susu. Meski begitu, kentut berbau tidak selalu menandakan masalah kesehatan.

Namun, jika disertai gejala seperti perut kembung berlebihan, nyeri, atau perubahan pola buang air besar, hal itu bisa mengindikasikan adanya intoleransi makanan (seperti laktosa atau gluten), sindrom iritasi usus (IBS), atau bahkan infeksi bakteri di saluran pencernaan.

“Bau pada kentut bukan hal memalukan, melainkan hasil kerja bakteri usus dalam mencerna makanan kompleks. Tapi kalau aromanya berubah drastis atau frekuensinya meningkat, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter,” tulis laporan tersebut. (*)

Reporter: Juliana Belence 

Update