Kamis, 29 Januari 2026

Kenali Pig Butchering, Penipuan Kripto Berbasis Relasi Emosional dan AI

Berita Terkait

Ilustrasi. F. x.com/Decripto_org.

batampos – Pig butchering menjadi salah satu modus penipuan digital yang kini marak terjadi secara global. Skema ini menggabungkan pendekatan emosional dengan investasi palsu, terutama di sektor cryptocurrency, dan semakin canggih dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Pig butchering merupakan istilah untuk menggambarkan cara penipu “menggemukkan” korban dengan membangun kepercayaan sebelum akhirnya menguras seluruh uang korban. Modus ini biasanya dimulai dari pesan acak di media sosial atau aplikasi kencan.

Pelaku berpura-pura menjalin hubungan pertemanan atau romantis dengan korban. Setelah kepercayaan terbentuk, korban kemudian diarahkan untuk mengirim uang atau berinvestasi di platform digital palsu yang sepenuhnya dikendalikan penipu.

“Pig butchering sering dimulai dari pesan sederhana di media sosial atau aplikasi kencan. Pelaku berusaha membangun hubungan emosional yang cepat dan intens agar korban merasa aman dan percaya,” ujar otoritas anti-penipuan Washington State Department of Financial Institutions (DFI), dikutip dari WSDFI, Kamis (29/1).

Laporan perusahaan riset blockchain Chainalysis tahun 2025 menyebutkan, pig butchering menjadi salah satu penyumbang terbesar kerugian akibat penipuan kripto secara global.

Nilai kerugian korban disebut mencapai miliaran dolar AS dan meningkat hampir 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan tersebut dipicu oleh penggunaan teknologi generative AI oleh pelaku. Dengan AI, penipu mampu menciptakan identitas palsu yang lebih meyakinkan, mulai dari foto profil, percakapan realistis, hingga cerita hidup yang terlihat konsisten.

Sejumlah kasus menunjukkan dampak besar dari skema ini. Salah satunya dialami seorang spesialis teknologi informasi di Amerika Serikat yang kehilangan tabungan hidupnya senilai sekitar 280 ribu dolar AS.

Korban mengaku berkomunikasi selama berbulan-bulan dengan seseorang yang mengklaim memiliki ketertarikan romantis, sebelum akhirnya dikenalkan pada investasi kripto palsu.

Saat korban mencoba menarik dana investasinya, situs tersebut justru meminta biaya tambahan yang bersifat fiktif. Tak lama kemudian, platform itu menghilang bersama seluruh dana korban.

Modus pig butchering tidak terbatas pada satu negara dan bersifat lintas batas. Pelaku biasanya menggunakan foto menarik dan latar belakang profesional untuk memancing kepercayaan. Hubungan dibangun secara perlahan selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, sebelum pembicaraan soal uang dimulai.

Platform investasi palsu yang digunakan kerap menampilkan grafik keuntungan fiktif agar korban terdorong menyetor dana lebih besar. Semakin lama korban bertahan, semakin besar kerugian yang berpotensi dialami.

Pig butchering menjadi contoh nyata bagaimana penipuan digital kini memanfaatkan sisi emosional manusia dan kemajuan teknologi.

Pemahaman terhadap pola dan ciri-ciri modus ini dinilai penting agar masyarakat tidak menjadi korban penipuan berikutnya. (*)

Update