
batampos – Dunia musik internasional kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Jimmy Cliff, legenda reggae asal Jamaika yang melahirkan lagu-lagu abadi seperti Many Rivers to Cross dan You Can Get It If You Really Want, meninggal dunia pada Senin (24/11) di usia 81 tahun.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh istrinya, Latifa Chambers, melalui akun Instagram resmi @jimmycliff.
“Dengan kesedihan mendalam, suami saya telah berpulang akibat kejang pneumonia. Kepada para penggemarnya, dukungan kalian adalah kekuatan Jimmy. Kekasihku, beristirahatlah dengan damai,” tulisnya.
Profil Singkat Jimmy Cliff
Lahir dengan nama James Chambers pada 30 Juli 1944, Jimmy Cliff memulai karier musik pada era 1960-an. Namanya melesat setelah membintangi film dan merilis album The Harder They Come (1972), karya monumental yang memperkenalkan musik reggae ke panggung dunia.
Selama karier panjangnya, Jimmy Cliff menciptakan banyak lagu yang kini menjadi standar musik reggae, antara lain: Many Rivers to Cross, You Can Get It If You Really Want, The Harder They Come, Sitting in Limbo dan I Can See Clearly Now.
Prestasinya juga diakui lembaga musik dunia. Dikutip dari The Guardian, Jimmy Cliff menerima sejumlah penghargaan bergengsi: Rock & Roll Hall of Fame (2010), Grammy Awards untuk album reggae terbaik (dua kemenangan dari tujuh nominasi) dan Order of Merit (OM) dari Pemerintah Jamaika, penghargaan tertinggi negara tersebut.
Jimmy Cliff dikenal sebagai musisi lintas genre yang berkolaborasi dengan nama-nama besar seperti The Rolling Stones, Sting, hingga Tim Armstrong dari band punk Rancid.
Album terakhirnya, Refugees (2022), dibuat bersama Wyclef Jean dan menambah panjang diskografinya yang mencapai lebih dari 30 album studio.
Selain musik, Jimmy Cliff juga aktif di dunia film. Ia kembali tampil di layar lebar lewat Club Paradise (1986) bersama Robin Williams dan Rick Moranis.
Kepergian Jimmy Cliff menyisakan duka mendalam bagi komunitas musik global. Ia dikenang sebagai tokoh yang menjembatani reggae ke dunia internasional tanpa kehilangan identitas Jamaika yang kuat.
Musisi yang bukan hanya berkarya, tetapi juga menjaga akar budaya negaranya hingga akhir hayat. (*)
Reporter: Juliana Belence
