Kamis, 22 Januari 2026

Jepang Murka! Sora 2 OpenAI Diduga Curi Karakter Anime dan Manga

Berita Terkait

F. x.com/Pirat_Nation.

batampos – Gelombang protes datang dari Jepang kepada OpenAI setelah peluncuran kecerdasan buatan terbarunya, Sora 2.

Sora 2 adalah teknologi AI generatif yang mampu membuat video animasi realistis hanya dari teks perintah. Namun, pemerintah Jepang dan sejumlah kreator anime menuding teknologi ini melanggar hak cipta karena menggunakan karakter anime dan manga tanpa izin resmi.

Pemerintah Jepang menyampaikan kekhawatiran serius terhadap dampak teknologi seperti Sora 2 terhadap industri kreatif mereka yang dikenal sebagai pusat budaya pop dunia.

“Anime dan manga adalah warisan budaya yang tak tergantikan,” ujar Menteri Negara Bidang Strategi Kekayaan Intelektual Jepang, Minoru Kiuchi, dikutip dari Japan Times, Jumat (17/10).

Sejak diluncurkan pada September lalu, beredar berbagai video AI buatan Sora 2 yang menampilkan karakter ikonik dari budaya pop Jepang, seperti Pokemon, One Piece, dan Dragon Ball Z.

Para kritikus menilai OpenAI belum memiliki mekanisme yang jelas dalam melindungi hak cipta dan sensitivitas terhadap keluarga tokoh publik, terutama terkait reanimasi wajah orang yang sudah meninggal.

Menanggapi protes besar tersebut, pihak OpenAI menyatakan akan meninjau ulang kebijakan data pelatihan Sora 2. Perusahaan berjanji memberikan kontrol lebih besar kepada pemegang hak cipta atas penggunaan karya mereka untuk pelatihan model AI.

“Kami akan memberikan pemegang hak cipta kontrol yang lebih mendetail atas pembuatan karakter, mirip dengan model opt-in untuk kemiripan wajah, tetapi dengan pengaturan tambahan,” kata Sam Altman, CEO OpenAI.

Sejak perilisannya, Sora 2 telah menduduki peringkat atas App Store Amerika Serikat, meski belum tersedia untuk perangkat Android.

Nilai industri anime dan manga Jepang mencapai lebih dari US$25 miliar per tahun. Pemerintah Jepang menyatakan tidak akan ragu mengambil langkah hukum jika dugaan pelanggaran hak cipta terus berlanjut.

“Kami akan melindungi industri kreatif nasional dari penggunaan teknologi yang tidak bertanggung jawab,” tegas Kiuchi.

Reporter: Juliana Belence

Update