
batampos – Jaguar Land Rover (JLR) membantah keras kabar yang menyebut Jaguar akan mundur dari strategi menjadi merek otomotif yang sepenuhnya memproduksi kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Perusahaan menegaskan komitmen Jaguar sebagai merek mobil mewah all electric tetap berjalan sesuai rencana.
Isu tersebut mencuat setelah muncul spekulasi bahwa Jaguar tengah mempertimbangkan pengembangan range extended electric vehicle (REEV), yakni kendaraan listrik dengan mesin bensin kecil yang berfungsi sebagai generator untuk memperpanjang jarak tempuh.
Namun, Jaguar memastikan informasi tersebut tidak benar dan tidak berdasar. Pabrikan asal Inggris itu menegaskan tidak ada perubahan dalam strategi elektrifikasi penuh yang telah dicanangkan.
“Merevolusi Jaguar sebagai merek otomotif mewah eksklusif yang hanya memproduksi kendaraan listrik,” ujar pernyataan resmi Jaguar, dikutip dari Car Expert, Selasa (27/1).
Jaguar menyatakan menyambut positif berbagai respons media terhadap prototipe kendaraan listrik terbarunya. Perusahaan juga optimistis akan meluncurkan model EV produksi pertama pada 2026, sejalan dengan agenda transformasi merek yang telah diumumkan sebelumnya.
Spekulasi soal perubahan strategi muncul setelah laporan yang menyebut tim internal Jaguar mengembangkan teknologi range extender yang mengombinasikan mesin pembakaran internal dengan baterai untuk memperpanjang jarak tempuh hingga sekitar 621 mil atau 1.000 kilometer. Klaim tersebut ditepis oleh pihak JLR.
Jaguar sendiri telah menarik perhatian global sejak mengumumkan rebranding besar-besaran dan pergeseran fokus menuju kendaraan listrik murni. Sejumlah model bermesin pembakaran internal bahkan telah dihentikan produksinya.
Ke depan, Jaguar memposisikan lini EV-nya untuk bersaing di segmen mobil listrik mewah, termasuk model grand tourer listrik yang dijadwalkan melakukan debut global pada 2026.
Jaguar menegaskan masa depan mereka sepenuhnya berada di kendaraan listrik. Jaguar Electric Architecture yang dikembangkan secara khusus hanya mendukung EV dan tidak dirancang untuk mesin pembakaran internal, termasuk sistem hybrid.
Sikap tegas ini diambil di tengah tantangan industri kendaraan listrik global, di mana sejumlah produsen otomotif mulai menunda atau menyesuaikan strategi EV akibat dinamika pasar dan permintaan.
Meski demikian, Jaguar menepis keraguan tersebut dan menegaskan tetap melangkah sebagai pemain mobil listrik mewah global. (*)
