
batampos – Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Anda sehari-hari. Mulai dari berbagi kabar, melihat aktivitas teman, hingga mencari hiburan, semuanya bisa dilakukan hanya dengan satu sentuhan jari.
Namun, di balik manfaatnya, media sosial menyimpan sisi lain yang bisa berdampak negatif pada kesehatan mental Anda.
Studi menunjukkan bahwa semakin sering seseorang menggunakan media sosial, semakin tinggi risiko munculnya perasaan cemas, depresi, hingga rendah diri.
Perbandingan sosial, paparan konten yang tidak realistis, hingga tekanan untuk selalu tampil baik bisa membebani pikiran tanpa disadari.
Terlebih bagi remaja dan dewasa muda, dampaknya bisa lebih serius jika tidak dikelola dengan bijak.
Memahami bagaimana media sosial memengaruhi kondisi psikologis Anda adalah langkah penting.
Dengan kesadaran yang tepat, Anda bisa membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.
Berikut ini adalah dampak umum dari media sosial terhadap kesehatan mental, serta tips sederhana untuk menggunakannya dengan lebih aman dan terkendali yang dihimpun dari UCDAVISHEALTH pada Selasa (22/7).
1. Kecanduan Media Sosial dan Pelepasan Dopamin
Media sosial dirancang untuk membuat Anda betah berlama-lama.
Setiap notifikasi, like, atau komentar memicu pelepasan dopamin di otak, zat kimia yang menimbulkan rasa senang.
Sensasi ini membuat Anda ingin terus membuka aplikasi demi mendapatkan “pengakuan” yang serupa. Tanpa disadari, Anda bisa terjebak dalam siklus kecanduan yang melelahkan.
Namun, ketika interaksi digital tersebut tidak terjadi seperti yang Anda harapkan misalnya unggahan Anda tidak mendapatkan respons yang diinginkan hal ini bisa memicu perasaan kecewa atau tidak berharga.
Hal tersebut dapat berdampak buruk pada citra diri dan rasa percaya diri Anda. Pengaruh semacam ini terutama kuat pada kalangan remaja yang masih membentuk identitas diri.
Membangun batasan yang sehat terhadap waktu penggunaan media sosial adalah langkah awal untuk memutus siklus tersebut.
Anda bisa mulai dengan mengatur timer harian atau mematikan notifikasi aplikasi agar tidak tergoda untuk membuka media sosial setiap saat.
2. Ilusi Kesempurnaan dan Ketidakpuasan Diri
Media sosial adalah ruang yang penuh dengan “highlight” kehidupan orang lain.
Banyak pengguna hanya membagikan sisi terbaik dari hidupnya liburan mewah, tubuh ideal, prestasi, atau kebahagiaan.
Paparan terus-menerus terhadap konten semacam ini bisa membuat Anda membandingkan kehidupan Anda sendiri dengan standar yang tidak realistis.
Penggunaan filter foto juga menambah tekanan tersendiri. Dengan hanya beberapa klik, siapa pun bisa menyunting wajah atau tubuh agar tampak “sempurna”.
Hal ini menciptakan persepsi palsu tentang standar kecantikan atau kesuksesan, yang bisa membuat Anda merasa tidak cukup baik atau tidak berharga secara fisik maupun sosial.
Untuk melindungi diri dari dampak ini, penting untuk menyadari bahwa apa yang Anda lihat di media sosial tidak mencerminkan kenyataan sepenuhnya.
Belajarlah untuk menghargai kehidupan Anda sendiri tanpa harus terjebak dalam perbandingan yang tidak adil.
3. FOMO: Takut Tertinggal dan Rasa Kehilangan
FOMO, atau Fear of Missing Out, adalah perasaan cemas karena merasa tertinggal dari apa yang dilakukan orang lain.
Media sosial memperburuk perasaan ini karena Anda bisa melihat setiap kegiatan orang lain secara instan mulai dari pesta ulang tahun, liburan, hingga pencapaian pribadi.
Perasaan ini bisa memicu ketidakpuasan terhadap hidup Anda sendiri, bahkan ketika sebenarnya tidak ada yang salah dalam kehidupan Anda.
Anda merasa harus selalu ikut serta atau tetap terhubung agar tidak dianggap “terlambat” dalam pergaulan.
Akibatnya, waktu dan perhatian Anda terkuras untuk hal-hal yang tidak selalu penting bagi kebahagiaan Anda.
Mengurangi waktu melihat unggahan orang lain dan lebih fokus pada kehidupan nyata bisa membantu mengatasi FOMO.
Ingat, setiap orang memiliki waktu dan jalan hidupnya masing-masing, dan Anda tidak perlu membandingkan pencapaian Anda dengan siapa pun.
4. Dampak Emosional dari Cyberbullying
Media sosial juga menjadi tempat berkembangnya perundungan digital atau cyberbullying.
Komentar jahat, penyebaran kebohongan, atau penghinaan yang dilakukan secara online bisa berdampak besar pada harga diri dan kondisi psikologis Anda.
Tak jarang, korban cyberbullying mengalami kecemasan berkepanjangan, depresi, atau bahkan keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
Masalah ini terutama serius karena pelaku bisa bersembunyi di balik anonim akun mereka.
Ini menjadikan pelecehan berlangsung lebih bebas dan sulit dikendalikan.
Remaja adalah kelompok yang paling rentan terhadap bentuk kekerasan ini karena belum memiliki ketahanan emosional yang kuat.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami hal ini, jangan ragu untuk mencari bantuan.
Laporkan akun pelaku, jaga privasi akun Anda, dan bicarakan masalah ini kepada orang tepercaya atau tenaga profesional agar tidak berkembang menjadi trauma berkepanjangan.
5. Tips Mengelola Media Sosial agar Tetap Sehat
Salah satu langkah terbaik untuk menjaga kesehatan mental di era digital adalah dengan mengelola waktu dan cara Anda menggunakan media sosial.
Tetapkan batas waktu harian melalui fitur bawaan di ponsel atau aplikasi.
Ini akan membantu Anda lebih sadar atas kebiasaan digital yang terbentuk tanpa sengaja.
Selain itu, tentukan waktu-waktu tertentu untuk tidak menggunakan media sosial sama sekali, misalnya sebelum tidur atau saat makan.
Gunakan waktu tersebut untuk aktivitas lain seperti membaca, berbicara langsung dengan keluarga, atau sekadar menikmati suasana sekitar.
Dengan begitu, Anda memberi ruang untuk pikiran Anda beristirahat.
Penting juga untuk mengevaluasi daftar pertemanan atau akun yang Anda ikuti.
Jika ada akun yang membuat Anda merasa rendah diri, cemas, atau tidak nyaman, jangan ragu untuk berhenti mengikuti atau membisukannya.
Lingkungan digital Anda seharusnya memberi energi positif, bukan sebaliknya.
6. Bangun Koneksi Nyata di Dunia Nyata
Walaupun media sosial membuat Anda merasa terhubung, koneksi yang paling bermakna tetap berasal dari interaksi tatap muka.
Bertemu langsung dengan teman atau keluarga, melakukan aktivitas bersama, atau sekadar berjalan-jalan bisa memberi dampak besar bagi kesejahteraan mental Anda.
Aktivitas fisik dan sosial terbukti secara ilmiah meningkatkan hormon endorfin, yang membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati.
Jadi, sisihkan waktu untuk melakukan hal-hal sederhana seperti berjalan-jalan di taman, memasak bersama orang tersayang, atau ikut komunitas lokal.
Kebahagiaan sejati sering kali tidak berasal dari jumlah like atau followers, melainkan dari momen kecil yang terjadi di luar layar.
Cobalah untuk lebih hadir di kehidupan nyata dan Anda akan merasakan perbedaan positifnya secara perlahan. (*)
