
batampos – Kita sebagai manusia cenderung membandingkan diri sendiri dengan orang lain walaupun kita sendiri tanpa disadari telah melakukan berbagai hal dengan baik.
Pepatah “rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri” menjadi kata-kata yang mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut.
Manusia cenderung melihat apa yang dimiliki orang lain lebih baik dibandingkan apa yang telah dimilikinya sendiri.
Alasan Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain
Dilansir dari laman Thriving Center of Psych pada Selasa (12/8), membandingkan adalah sifat alami manusia yang secara umum menjadi bagian dari kehidupan sosial.
Membandingkan diri sendiri dengan orang lain dinilai memberikan dampak positif sekaligus negatif. Meskipun membandingkan diri sendiri dengan orang lain memberikan dampak positif, bagi sebagian orang hal tersebut menyebabkan dampak negatif seperti perasaan tidak puas, bersalah, dan penyesalan.
Dilansir dari laman Verywellmind pada Selasa (12/8), teori perbandingan sosial menjelaskan seseorang menilai diri sendiri dan nilai sosial dengan bagaimana seseorang itu membandingkan diri sendiri dengan lainnya.
Teori perbandingan sosial dicetuskan oleh psikolog, Leon Festinger sebagai suatu dorongan alami orang untuk mengevaluasi diri sendiri dan seringkali membandingkan dengan orang lain. Perbandingan sosial dibagi menjadi dua kategori yaitu perbandingan ke atas/upward social comparison dan perbandingan ke bawah/downward social comparison.
Membandingkan diri dengan orang lain yang diyakini lebih baik dari kita (upward social comparison) terkadang membantu kita untuk meningkatkan potensi diri, status, atau tingkat kemampuan sehingga diharapkan memperoleh hasil yang mirip.
Membandingkan diri dengan orang lain yang diyakini lebih buruk (downward social comparison) dari kita membantu kita lebih menerima/baik apa yang kita miliki. Mungkin kita tidak hebat untuk melakukan sesuatu, tetapi paling tidak kita lebih baik dari orang lain.
Membandingkan diri sendiri dengan orang lain dapat mempengaruhi tingkat keyakinan atas kemampuan kita sendiri,rasa percaya diri, motivasi dan tingkah laku serta perhatikan pula munculnya perasaan negatif sebagai dampak dari proses membandingkan diri dengan orang lain
Dilansir dari laman Hellosehat pada Selasa (12/8), alasan mengapa kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain diantaranya;
1. Pencarian validasi
Validasi merupakan pengakuan publik/orang lain atas diri kita lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Kecenderungan mencari pembanding (orang lain) tak jarang membuat munculnya rasa rendah diri atau inferiority complex. Rasa tidak pernah puas atas pencapaian yang telah kita raih selama ini mendorong diri untuk membandingkan dengan orang lain.
2. Pengambilan keputusan
Membandingkan diri sendiri dengan orang lain terkadang menjadi cara yang diambil secara tidak sadar untuk melihat hasil dari keputusan yang telah diambil orang lain sebelum kita sendiri melakukan hal tersebut. Namun perlu kita sadari bahwa tidak sepenuhnya hasil keputusan orang lain sama dengan hasil keputusan yang akan kita peroleh nantinya. Perbedaan tersebut dapat terjadi akibat adanya pengaruh faktor lain yang kita tidak ketahui.
3. Pencarian motivasi
Motivasi menjadi salah satu alasan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Pencapaian orang lain yang lebih baik dari kita dapat membantu kita termotivasi untuk melakukan perbaikan dan pengembangan diri untuk mencapai tujuan serupa. Namun perlu dipahami terdapat batasan dalam membandingkan diri sendiri dengan orang lain sehingga tidak menjadi ajang kompetisi. (*)
