Sabtu, 25 April 2026

Ini 7 Alasan Mengapa Gen Z Mudah Cemas dan Khawatir

Berita Terkait

Kecemasan yang dirasakan seseorang sejatinya adalah hal yang wajar. Namun, kecemasan itu patut diwaspadai jika sampai mengganggu aktivitas. Misalnya, sampai ketakutan atau menghindari bertemu dengan orang lain. (ILUSTRASI DIPERAGAKAN NADINE ANNABEL – ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

batampos – Generasi Z adalah orang-orang yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012. Mereka sering dianggap sebagai anak muda dengan pola pikir yang terus berkembang, yang merupakan generasi ‘digital native’ sejati pertama.

Namun, seperti setiap koin memiliki dua sisi, kecanduan media sosial, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian global juga merupakan masalah yang mengkhawatirkan.

Dilansir astotalk, berikut tujuh alasan utama mengapa Gen Z mudah cemas dan khawatir.

1. Kewalahan dengan media sosial

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia Gen Z. Menghabiskan waktu luang dengan menjelajahi platform media sosial mengakibatkan perbandingan dengan ‘kehidupan sempurna’ orang lain. Ini menyebabkan keraguan diri, FOMO, dan isolasi.

2. Ketidakpastian ekonomi

Gaji yang stagnan, utang besar, dan pekerjaan ekonomi lepas yang tidak stabil membuat mereka merasa tidak yakin tentang ketidakstabilan ekonomi di masa depan. Bahkan mereka takut tidak akan pernah memiliki rumah atau pensiun dengan nyaman.

3. Ketakutan terhadap perubahan iklim

Sebagai generasi yang mewarisi krisis iklim Bumi, Gen Z menyaksikan bencana akibat perubahan iklim seperti kebakaran hutan, banjir, dan gelombang panas yang hebat. Selain itu, kecemasan ekologis menjadi sumber kekhawatiran lain bagi generasi yang ingin mengubah dunia.

4. Trauma pascapandemi

Pandemi COVID-19 membuat Gen Z terkurung di dalam ruangan. Mereka menghabiskan masa sekolah secara daring dan kehilangan momen-momen penting meninggalkan bekas emosional yang mendalam pada generasi ini.

Bekerja dalam mode hibrida dan menghadapi perilaku cemas secara sosial merupakan tantangan lain yang membuat mereka selalu terhubung tetapi terputus secara emosional.

5. Kelebihan informasi

Kehidupan mereka dibombardir dengan berita tanpa henti tentang perang, politik, dan lainnya, semua berkat algoritma yang dirancang untuk memicu kemarahan. Akibatnya, terjadilah doom scrolling dan kelumpuhan berbasis rasa takut.

6. Pola asuh dan perfeksionisme

Bagi Gen Z, kesempurnaan sering dikaitkan dengan tekanan orang tua, yang membesarkan mereka dengan aspirasi akademis, ekstrakurikuler, dan karier yang lebih tinggi.

7. Takut berinteraksi tatap muka

Generasi digital native lebih menyukai interaksi melalui layar daripada koneksi interpersonal di kehidupan nyata. Aplikasi kencan dan budaya ghosting mendorong hubungan yang dangkal, sementara pekerjaan jarak jauh memperburuk isolasi.(*)

 

ReporterJPGroup

Update