Sabtu, 31 Januari 2026

Ini 5 Karakter Orang yang Lebih Suka Bayar Tunai daripada Pembayaran Digital

Berita Terkait

Ilustrasi – Transaksi pembayaran melalui aplikasi uang elektronik “server based”, dompet elektronik dan mobile banking saat peluncuran dan implementasi QR Code Indonesian Standard (QRIS) untuk desa wisata di Pasar Slumpring, Desa Cempaka, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc/aa)

batampos – Di tengah kemudahan pembayaran digital yang semakin marak, masih ada banyak orang yang tetap memilih menggunakan uang tunai.

Pilihan ini sering dianggap kuno atau ketinggalan zaman, padahal di baliknya tersimpan alasan-alasan yang sangat pribadi dan mendalam.

Mereka bukan sekadar menolak tren atau teknologi baru, tetapi memiliki pertimbangan dan cara pandang sendiri terhadap transaksi sehari-hari.

Memahami keputusan ini akan memberi kita wawasan menarik tentang bagaimana orang menilai kenyamanan, keamanan, dan kebebasan dalam hidup mereka.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Jumat (30/1), berikut merupakan 5 karakter orang yang tidak suka pembayaran digital alias cashless.

1. Anda suka merasa punya kendali sendiri

Orang yang lebih memilih menggunakan uang tunai biasanya merasa lebih nyaman ketika bisa mengendalikan sendiri seluruh proses transaksi.

Dengan uang tunai, mereka mengetahui persis apa yang terjadi sejak pembayaran dimulai hingga selesai, tanpa ada pihak lain yang ikut mencatat atau memprosesnya.

Sebaliknya, pembayaran digital melibatkan sistem yang merekam setiap langkah transaksi, sehingga sebagian orang merasa kehilangan kendali atas keputusan mereka sendiri.

Ini bukan karena mereka takut akan teknologi atau gagap digital, melainkan karena mereka ingin mempertahankan kebebasan dan kemampuan untuk menentukan cara mereka dalam berinteraksi secara finansial.

Dengan begitu, orang seperti ini cenderung menghargai otonomi dan merasa lebih tenang ketika bisa memegang kendali penuh atas pilihan mereka sendiri.

2. Anda peduli terhadap privasi dan data pribadi

Setiap kali menggunakan QR code atau aplikasi pembayaran digital, secara otomatis data pribadi Anda, seperti lokasi, kebiasaan belanja, dan pola pengeluaran, akan terekam.

Bagi sebagian orang, hal ini menimbulkan kekhawatiran karena mereka tidak ingin informasi pribadi mereka dipantau atau disalahgunakan.

Orang yang menolak sistem cashless cenderung sangat memperhatikan privasi dan tidak sembarangan menukar informasi pribadi demi kemudahan transaksi.

Sikap ini menunjukkan bahwa mereka bijak dan berhati-hati dalam menghadapi teknologi, serta memahami bahwa kemudahan yang ditawarkan selalu datang dengan konsekuensi tertentu.

Kepedulian terhadap privasi semacam ini sebenarnya adalah bentuk kesadaran yang sehat dalam dunia yang semakin digital.

3. Anda berhati-hati sebelum mengikuti perubahan

Tidak semua orang langsung mengikuti tren terbaru begitu muncul. Ada sebagian orang yang lebih memilih menunggu, mengamati, dan mengevaluasi sebelum ikut serta dalam sesuatu yang baru.

Sikap skeptis ini sering kali muncul pada orang yang menolak penggunaan QR code atau pembayaran digital, bukan karena mereka menolak teknologi sepenuhnya, tetapi karena mereka ingin memastikan bahwa perubahan tersebut aman dan efektif.

Sikap seperti ini juga menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menilai risiko dengan baik.

Dengan menahan diri, mereka sering kali bisa melihat masalah atau kelemahan yang luput dari perhatian orang lain.

Jadi, keraguan terhadap sistem cashless sebenarnya merupakan bentuk kehati-hatian dan pertimbangan matang sebelum membuat keputusan.

4. Anda peduli agar semua orang tetap bisa ikut bertransaksi

Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap smartphone, internet, atau rekening bank.

Ketika bisnis atau layanan memaksa sistem cashless sepenuhnya, sebagian kelompok masyarakat bisa merasa tertinggal atau tidak terlayani.

Orang yang menolak sistem ini sering kali memiliki kepedulian tinggi terhadap keadilan sosial dan inklusivitas.

Mereka menyadari bahwa kemajuan teknologi, meskipun mempermudah sebagian orang, bisa menimbulkan hambatan baru bagi kelompok rentan, seperti lansia yang kesulitan menggunakan aplikasi, keluarga berpenghasilan rendah tanpa rekening bank, atau masyarakat di daerah terpencil dengan koneksi internet yang terbatas.

Dengan menolak sistem cashless, mereka secara tidak langsung memperjuangkan agar semua orang tetap bisa mengakses layanan dan tidak ada yang tersisih akibat perubahan teknologi.

5. Anda lebih suka pengalaman fisik yang nyata

Beberapa orang memiliki preferensi alami untuk pengalaman yang bisa disentuh dan dirasakan secara nyata.

Misalnya, menyerahkan uang tunai secara langsung atau menggesek kartu memberi sensasi yang berbeda dibandingkan mengetuk layar ponsel.

Pengalaman fisik ini terasa lebih konkret, lebih nyata, dan lebih dapat dipercaya bagi mereka.

Orang yang menolak pembayaran cashless biasanya memiliki cara berpikir yang sama, di mana mereka menghargai pengalaman sensorik yang nyata, dan merasa lebih nyaman melakukan transaksi yang bisa mereka rasakan secara fisik.(*)

ReporterJPGroup

Update