
batampos – Saham sejumlah perusahaan video gim besar asal Jepang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa sesi perdagangan terakhir. Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek industri gim Jepang secara keseluruhan.
Salah satu yang paling terdampak adalah Nintendo. Saham perusahaan tersebut anjlok sekitar 11 persen pada 4 Februari 2026, menyusul rilis laporan keuangan terbaru yang memicu kekhawatiran pasar terhadap momentum penjualan konsol generasi terbaru, Switch 2.
Meski Nintendo melaporkan kinerja penjualan yang masih solid, analis menilai laju pertumbuhan Switch 2 belum cukup kuat untuk menopang ekspektasi pertumbuhan jangka panjang. Kondisi ini membuat investor mulai menahan diri.
Selain Nintendo, tekanan juga dialami saham perusahaan gim Jepang lainnya seperti Sony, Sega, Capcom, Bandai Namco, Square Enix, Konami, hingga Koei Tecmo, meski dengan tingkat penurunan yang bervariasi.
Analis menilai ketiadaan judul gim berprofil tinggi dalam waktu dekat serta proyeksi laba yang cenderung konservatif menjadi faktor utama yang mengecewakan pasar.
Penurunan saham Nintendo juga disebut sebagai bagian dari tren yang lebih luas. Secara kumulatif, saham Nintendo telah terkoreksi sekitar 33 persen dari titik tertinggi pada paruh kedua 2025.
Tekanan tersebut diperparah oleh sentimen negatif di sektor teknologi global. Saham perusahaan teknologi Jepang, termasuk produsen elektronik konsumen dan perangkat gim, ikut mengalami aksi jual yang cukup kuat dalam beberapa pekan terakhir.
Sejumlah faktor dinilai menjadi pemicu pelemahan saham industri gim Jepang, mulai dari kekhawatiran terhadap daya tarik konsol baru, minimnya peluncuran gim unggulan, hingga meningkatnya biaya komponen produksi.
Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran investor bahwa pertumbuhan industri gim Jepang berpotensi melambat jika perusahaan tidak segera menghadirkan produk, strategi, atau inovasi baru yang mampu mendongkrak permintaan pasar. (*)
