
batampos – Terobosan besar di dunia medis berhasil dicapai ilmuwan Tiongkok. Tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences bersama sejumlah universitas terkemuka di Tiongkok mengembangkan alat pacu jantung (pacemaker) yang memperoleh energi listrik langsung dari detak jantung pasien.
Teknologi ini memungkinkan pacemaker beroperasi tanpa baterai konvensional, sehingga berpotensi bertahan seumur hidup tanpa perlu operasi penggantian. Hasil riset tersebut merupakan buah kolaborasi selama sekitar tujuh tahun.
Inovasi pacemaker ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi Nature Biomedical Engineering, menandai potensi revolusi dalam penanganan penyakit jantung secara global.
Pacemaker yang dikembangkan memiliki ukuran sangat miniatur dan bekerja dengan mengubah gerakan alami jantung menjadi energi listrik melalui mekanisme induksi elektromagnetik. Energi tersebut kemudian digunakan untuk mengatur ritme detak jantung pasien.
Perangkat ini dilengkapi struktur magnetik levitasi yang dirancang khusus untuk meminimalkan gesekan dan kehilangan energi. Desain tersebut memastikan suplai listrik yang stabil dan cukup untuk kebutuhan operasional pacemaker.
Selain itu, pacemaker ini memiliki tingkat biokompatibilitas tinggi dan aman bagi jaringan tubuh. Proses pemasangannya dapat dilakukan melalui metode minimal invasif menggunakan kateter, sehingga mengurangi risiko dan trauma pembedahan.
Selama ini, pacemaker konvensional bergantung pada baterai yang umumnya bertahan 8 hingga 10 tahun. Setelah masa pakai habis, pasien harus menjalani operasi penggantian yang memiliki risiko medis serta biaya yang tidak sedikit.
Dengan teknologi baru ini, pacemaker berpotensi bekerja tanpa batas waktu, mengikuti detak jantung pasien sebagai sumber energi utamanya.
Uji coba awal telah dilakukan pada hewan, dan hasilnya menunjukkan pacemaker mampu beroperasi sepenuhnya menggunakan energi detak jantung selama satu bulan penuh. Temuan ini menunjukkan tingkat kelayakan klinis yang menjanjikan, meski pengujian pada manusia masih terbatas.
Tim peneliti menargetkan uji klinis pada manusia dapat dimulai sebelum 2030.
Dalam pengembangannya, para ilmuwan mengusung konsep symbiotic bioelectronics, yakni perangkat elektronik yang terintegrasi secara biologis dengan tubuh manusia, bukan sekadar ditanam.
Konsep ini terinspirasi dari sistem simbiosis di alam, seperti hubungan jamur dan tanaman, yang menunjukkan bagaimana teknologi dan sistem biologis dapat saling mendukung untuk meningkatkan fungsi kehidupan. (*)
