Jumat, 2 Januari 2026

Gejala Superflu dengan Flu Biasa Berbeda, Simak Penjelasan Dokter

Berita Terkait

Ilustrasi flu.

batampos – Perbedaan gejala antara flu biasa dan influenza yang belakangan disebut sebagai superflu penting dipahami masyarakat agar tidak salah menganggap remeh penyakit. Meski istilah superflu bukan terminologi medis, kondisi ini merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K dengan penularan yang cepat dan potensi gejala yang lebih berat dibanding flu biasa atau selesma.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa flu biasa dan influenza adalah dua kondisi yang berbeda. Flu biasa yang secara medis dikenal sebagai common cold atau selesma, umumnya disebabkan oleh berbagai jenis virus selain influenza dan cenderung bergejala ringan.

Penderitanya biasanya mengalami pilek, batuk ringan, atau hidung tersumbat, tanpa demam tinggi, dan tetap bisa beraktivitas. Keluhan ini umumnya membaik dalam dua hingga tiga hari hanya dengan istirahat cukup.

Berbeda dengan itu, superflu alias influenza A(H3N2) subclade K dapat menimbulkan gejala yang jauh lebih berat. Superflu ini disebabkan oleh virus influenza, terutama influenza A dan B.

Pada influenza A, termasuk subtipe H3N2 yang belakangan ramai dibicarakan, gejalanya bisa berupa demam tinggi, menggigil, sakit kepala hebat, nyeri otot, lemas, nyeri tenggorokan, hingga batuk dan pilek yang berat.

“Kalau seseorang sampai demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, sampai tidak bisa masuk kerja atau sekolah, itu kemungkinan besar influenza, bukan flu biasa,” jelas dr. Nastiti dalam penjelasannya, Senin (29/12) lalu.

dr. Nastiti menambahkan, superflu juga berisiko menimbulkan komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan. Influenza dapat berkembang menjadi pneumonia atau radang paru akut. Pada kondisi tertentu, terutama bila tidak tertangani dengan baik, penyakit ini bahkan bisa berujung pada gagal ginjal, gagal hati, hingga mengancam nyawa.

Adapun kelompok yang paling berisiko mengalami keparahan adalah balita dan lansia. Selain itu, orang dengan penyakit penyerta seperti penyakit jantung, kanker, HIV, penyakit autoimun, serta mereka yang mengonsumsi obat-obatan penekan sistem imun juga termasuk kelompok berisiko tinggi.

Pada kelompok ini, gejala influenza bisa lebih berat dan berlangsung lebih lama dibandingkan orang sehat.

Terkait istilah superflu, dr. Nastiti menjelaskan bahwa kegaduhan muncul karena adanya varian influenza A H3N2 subgrade K yang diduga lebih mudah menular. Namun hingga kini, belum ada bukti ilmiah bahwa varian tersebut menyebabkan gejala yang lebih berat
dibandingkan varian influenza A lainnya.

“Keparahannya masih mirip dengan influenza A pada umumnya,” jelasnya.

Dari sisi pencegahan, langkah yang dilakukan untuk influenza, termasuk yang disebut superflu, pada dasarnya sama seperti pencegahan Covid-19. Virus influenza sangat mudah menular melalui percikan ludah saat batuk atau bersin, serta melalui permukaan benda yang terkontaminasi.

Karena itu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci, seperti menggunakan masker saat sakit, menerapkan etika batuk dan bersin, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dari orang yang sakit, serta membersihkan benda yang sering disentuh.

Selain itu, imunisasi influenza tetap menjadi langkah penting. Vaksin influenza terbukti dapat menurunkan risiko penularan maupun keparahan penyakit, terutama pada kelompok rentan. Di Indonesia, influenza dapat ditemukan sepanjang tahun, sehingga imunisasi bisa dilakukan kapan saja, terutama setelah anak berusia enam bulan.

Dengan memahami perbedaan gejala flu biasa dan influenza, masyarakat diharapkan lebih waspada dan tidak mengabaikan gejala berat yang muncul, sekaligus tidak panik dengan istilah superflu yang beredar luas.

Untuk diketahui, kasus influenza A(H3N2) subclade K atau superflu di Indonesia tercatat mencapai 62 kasus hingga akhir Desember 2025. Sebaran terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan situasi nasional masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan.

Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan bahwa berdasarkan pemantauan nasional dan global, subclade K tidak lebih berbahaya dibandingkan varian influenza lainnya.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan. Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan,” ujarnya, Kamis (1/12).(*)

ReporterJPGroup

Update