Batampos – Konsep film Natal yang identik dengan suasana liburan, sudah ada sejak era 1940-an, ketika Hollywood memproduksi film klasik seperti It’s A Wonderful Life, Miracle On 34th Street, dan Christmas In Connecticut, yang sebenarnya difilmkan di studio Warner Bros di Burbank, California.

“Pada 2006 lalu atau lima tahun setelah peluncuran Hallmark Channel di televisi, Hallmark menemukan tambang emas lewat film romantis The Christmas Card,” ujar Joanna Wilson, penulis buku Tis The Season TV: The Encyclopedia Of Christmas-Themed Episodes, Specials And Made-for-TV Movies seperti dikutip dari AP.
Hallmark melihat rating yang tinggi itu, lalu mulai menciptakan format dan formula tersebut, dengan berbagai klise khas. “Dan itu menjadi cikal bakal yang kini menjadi formula utama dalam film-film romansa Natal,” jelas Wilson.
Dia menyebutkan, industri film Natal, yang diperkirakan menghasilkan ratusan juta dolar AS per tahun kini tidak lagi hanya didominasi Hallmark dan Lifetime. Saat ini, berbagai jaringan televisi kabel dan nasional, platform streaming seperti Netflix, Prime, dan lainnya. Hingga produser film langsung ke video merilis sekitar 100 film baru setiap tahun.
Genre ini juga semakin beragam, menampilkan karakter dari berbagai latar belakang ras dan etnis, bahkan hingga alur cerita ‘kaum pelangi’.
Meski begitu, formulanya tetap sama. Dan para penggemar masih memiliki selera besar terhadap kisah cinta yang ramah keluarga. “Mereka ingin melihat orang-orang dipersatukan. Mereka ingin melihat romansa. Itu bagian dari harapan di musim ini,” ujarnya.
“Siapa yang tidak menyukai cinta? Dan ceritanya selalu berakhir bahagia dan bisa ditebak. Tapi, perpaduan suasana natal, latar belakang film yang indah, akan selalu mendapat tempat untuk ditonton,” ujar Wilson.
Hazel Duncan, 83, dari Forest City, North Carolina, mengatakan, ia dan suaminya, Owen, yang telah menikah selama 65 tahun, senang menonton film-film tersebut sepanjang tahun karena ceritanya manis dan ramah keluarga. Film-film itu juga membawanya kembali ke masa awal pernikahan mereka, ketika hidup terasa lebih sederhana.
“Kami kadang berpegangan tangan. Rasanya manis sekali. Kami punya dua kursi santai di kamar tidur kecil dengan televisi di sana. Kami menutup pintu dan itu menjadi waktu kami berdua setiap malam,” ujarnya. (*)
