Senin, 26 Januari 2026

Fenomena Zero Post, Tren Gen Z Pilih Diam dan Minim Unggahan di Media Sosial

Berita Terkait

Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Fenomena Zero Post belakangan menjadi tren baru di kalangan generasi Z (Gen Z). Dalam tren ini, pengguna media sosial memilih untuk tidak memposting atau sangat jarang mengunggah konten di feed mereka, sehingga profil tampak kosong atau nyaris tanpa unggahan.

Fenomena Zero Post mencerminkan perubahan signifikan dalam perilaku digital generasi muda, berbeda dengan budaya oversharing yang populer pada era sebelumnya.

Gen Z yang tumbuh bersamaan dengan perkembangan teknologi dan media sosial justru mulai menarik diri dari sorotan publik di dunia maya.

Istilah Zero Post mulai ramai dibahas setelah penulis The New Yorker, Kyle Chayka, menyoroti kecenderungan menurunnya kebiasaan berbagi momen pribadi secara daring dalam esainya tentang konsep “posting zero”. Sejak itu, tren ini berkembang luas dalam budaya internet global.

Gen Z, yang umumnya lahir pada rentang 1997 hingga 2012, dikenal sebagai generasi digital native. Namun, tren Zero Post menunjukkan paradoks: meski sangat aktif mengakses media sosial, banyak dari mereka memilih menjadi pengamat ketimbang kreator konten.

Ada sejumlah faktor yang mendorong munculnya fenomena Zero Post. Salah satunya adalah kejenuhan terhadap media sosial. Banyak Gen Z merasa lelah dengan tuntutan untuk selalu tampil sempurna, estetik, dan menarik perhatian publik.

Tekanan sosial juga menjadi pemicu. Media sosial kerap dipersepsikan sebagai ruang kompetisi yang menuntut jumlah likes, komentar, dan interaksi tinggi. Kondisi ini membuat sebagian pengguna memilih diam agar terhindar dari tekanan tersebut.

Faktor keamanan dan jejak digital turut memengaruhi. Kekhawatiran terhadap privasi dan penyalahgunaan data membuat Gen Z lebih berhati-hati dalam membagikan aktivitas pribadi secara daring.

Selain itu, fungsi media sosial juga mengalami pergeseran. Banyak Gen Z menggunakan platform digital lebih sebagai sarana konsumsi konten, seperti menonton video atau mengikuti akun favorit, tanpa merasa perlu aktif memposting konten pribadi.

Fenomena Zero Post juga dipandang sebagai bentuk kontrol emosional dan otonomi digital. Bagi sebagian Gen Z, memilih tidak memposting bukan berarti menghilang, melainkan menolak anggapan bahwa kehidupan yang baik harus selalu dipamerkan di media sosial.

Meski dinilai membantu menjaga kesehatan mental dan keseimbangan hidup offline dan online, tren ini juga memunculkan dampak lain. Penurunan konten personal berpotensi membuat linimasa media sosial semakin dipenuhi iklan, konten komersial, hingga konten buatan kecerdasan buatan (AI).

Fenomena Zero Post menunjukkan bahwa generasi muda tengah mendefinisikan ulang makna kehadiran digital dan tujuan bermedia sosial di era modern. (*)

Update