
batampos – Sebuah aplikasi asal Tiongkok bertajuk “Are You Dead?” menjadi fenomena viral pada awal 2026. Aplikasi ini bahkan sempat menempati posisi teratas dalam daftar aplikasi berbayar terpopuler di Apple App Store versi Tiongkok.
Perhatian publik tertuju pada aplikasi tersebut karena nama yang dinilai provokatif, meski fungsi utamanya berkaitan dengan aspek keselamatan bagi individu yang tinggal sendiri.
Popularitasnya mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan solusi digital bagi gaya hidup solo yang kini kian berkembang di kawasan perkotaan.
Aplikasi “Are You Dead?” dirancang sebagai alat keselamatan digital sederhana bagi pengguna yang hidup mandiri, seperti pekerja urban, mahasiswa perantauan, hingga warga lanjut usia yang tinggal terpisah dari keluarga.
Mekanisme kerjanya cukup sederhana. Pengguna diminta menetapkan satu kontak darurat dan melakukan check-in harian melalui aplikasi.
Jika pengguna tidak melakukan check-in selama dua hari berturut-turut, sistem akan otomatis mengirimkan notifikasi kepada kontak darurat tersebut.
Fitur ini bertujuan membantu mencegah situasi darurat, khususnya ketika seseorang yang tinggal sendirian mengalami masalah kesehatan atau kondisi kritis tanpa ada pihak yang menyadarinya.
Aplikasi ini tidak menggunakan pelacakan lokasi maupun pemantauan langsung, melainkan berfungsi sebagai pengingat berbasis partisipasi pengguna.
Awalnya, aplikasi tersebut diluncurkan secara gratis pada pertengahan 2025. Namun, lonjakan pengguna terjadi pada awal Januari 2026, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap isu kesehatan dan keselamatan individu yang hidup sendiri.
Seiring popularitasnya, nama “Are You Dead?” menuai kritik karena dianggap terlalu kontroversial dan sensitif. Pengembang kemudian memutuskan mengganti nama aplikasi untuk pasar global menjadi “Demumu”, sekaligus menerapkan sistem berlangganan sekitar 8 yuan guna menutup biaya operasional.
Fenomena aplikasi ini mendapat sorotan luas karena menyentuh kerentanan emosional dan sosial masyarakat modern, khususnya mereka yang hidup jauh dari jaringan keluarga dan komunitas tradisional.
Keberhasilannya menunjukkan besarnya permintaan terhadap solusi digital yang menawarkan rasa aman bagi gaya hidup mandiri. (*)
