Sabtu, 24 Januari 2026

Dari Malioboro hingga Prambanan, Serunya Media Connect Archipelago Group ke Kota Budaya

Berita Terkait

Jurnalis Batam bersama manajemen Archipelago Group Region Batam dalam program Media Connect 2025. F. Fiska Juanda/Batam Pos.

JOGJA selalu punya cara menyapa para pendatang, lembut, hangat, dan tak terburu-buru. Itulah kesan pertama yang dirasakan para jurnalis Batam ketika mengikuti program Media Connect 2025 persembahan Archipelago Group Region Batam.

Laporan: FISKA JUANDA

Perjalanan yang digelar pada 13–16 November 2025 oleh Archipelago Group region Batam ini bukan sekedar sarana memperkuat komunikasi. Namun, menjadikan sebuah perjalanan budaya yang begitu memikat.

Media Connect yang biasanya berlangsung dalam format seminar atau silaturahmi sederhana, kini tampil dengan wajah berbeda. Archipelago Group Region Batam memilih membawa rombongan jurnalis ke Yogyakarta, kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Tujuan perjalanan ini hanya satu, hubungan yang terjalin dengan media kian erat melalui pengalaman nyata.

Perjalanan itu dimulai pada Kamis (13/11) siang, saat rombongan meninggalkan Hang Nadim dengan semangat yang terasa sejak di ruang tunggu. Ketika pesawat mendarat di New Yogyakarta International Airport, udara hangat khas Jogja seperti langsung menyambut.

Malam pertama menjadi pembuka yang manis, santap malam bersama di Aston Gejayan, lengkap dengan suasana yang membangun kedekatan sejak awal.

Tapi Jogja selalu punya cara untuk berkata bahwa cerita belum selesai, dan malam itu, Malioboro memanggil. Lampu-lampunya yang tak pernah padam, pedagang yang tak kenal lelah, serta hiruk pikuk yang tetap ramah memanjakan siapa pun yang melangkah di bawah langitnya.

Keesokan harinya, Jumat (14/11), rombongan dibawa jauh dari gegap gempita kota, menuju nuansa pedesaan yang lebih tenang. Omah Kecebong menyambut seperti rumah kedua. Di sana, para jurnalis tak hanya melihat budaya Jawa dari balik kamera, tetapi menyentuh dan mengalaminya langsung.

Ada yang mencoba jemparingan dengan tawa kecil saat anak panah meleset, ada yang khusyuk membatik, ada pula yang tampak kikuk namun bahagia saat mengenakan busana adat. Hidangan yang tersaji sederhana namun sarat rasa, mengingatkan siapa pun pada makanan rumahan yang penuh kenangan.

Rombongan Media Connect 2025 mencoba jemparingan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan budaya. F. Fiska Juanda/Batam Pos.

Keakraban tumbuh begitu cepat. Tawa pecah di setiap sudut, interaksi mengalir tanpa jeda, dan percakapan hangat membuat suasana seperti berkumpul dengan keluarga besar. Di tempat inilah semua sadar, budaya bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman yang dihayati.

Rencana sempat berubah ketika aktivitas vulkanik Merapi meningkat, memaksa rombongan menunda kunjungan ke kawasan lereng gunung. Tetapi Jogja, dengan segala kejutannya, justru menghadirkan momen lain yang tak kalah berkesan.

Malam itu, Bale Raos menjadi panggung kehormatan. Dalam balutan sejarah dan aroma masakan khas keraton, para jurnalis bersantap di tempat yang dahulu menjadi pilihan keluarga Keraton Yogyakarta.

Suasananya tenang, hangat, dan sarat makna. Para peserta berbaur dengan jajaran manajemen Archipelago Region Batam mulai dari Director of Sales, Operation Manager, hingga Cluster General Manager, obrolan yang mengalir sehangat teh yang tersaji di meja.

Sabtu (15/11), rombongan memasuki dunia yang berbeda lagi. Studio Alam Gamplong menyuguhkan suasana sinematik yang seolah membawa mereka masuk ke lembaran-lembaran sejarah. Rumah-rumah kayu tua, jalanan tanah, dan set film yang begitu detail membuat peserta seperti berjalan di masa lampau.

Menjelang senja, perjalanan itu seperti menemukan nadinya. Langit Prambanan berubah keemasan, perlahan tenggelam di balik siluet candi yang menjulang, seolah tengah menarik tirai untuk membuka panggung sebuah kisah besar.

Di bawah cahaya yang meredup, Ramayana Ballet Purawisata dipentaskan, sebuah persembahan budaya yang menyulam gerak, suara, dan cerita menjadi satu helai pengalaman.

Adegan Rama dan Shinta dalam pagelaran Ramayana Ballet. F. Fiska Juanda/Batam Pos.

Gerakan para penari, lembut namun penuh presisi, seakan menggambarkan emosi yang tak diucapkan. Dentingan gamelan mengalun ritmis, menuntun kisah Rama dan Shinta tanpa perlu satu kata pun terucap.

Cahaya temaram, musik yang menggetarkan, serta penuturan klasik itu berpadu menciptakan suasana yang membuat siapa pun terhanyut. Malam di Prambanan menjadi penutup hari yang tak hanya indah, tapi juga berkesan hingga ke relung perasaan.

Dan ketika esok paginya pesawat membawa rombongan kembali melintasi langit menuju Batam, bayangan Jogja terasa tetap mengikuti. Seperti sebuah kenangan yang menempel halus, kota itu tidak benar-benar ditinggalkan.

Ia tinggal diam-diam di balik kaca jendela pesawat, lalu ikut pulang bersama para peserta, meski kaki mereka telah berpijak di tanah yang berbeda.

Di balik perjalanan hangat itu, ada sosok yang memastikan setiap penggal cerita berjalan sebagaimana mestinya. Cluster General Manager Archipelago Group Region Batam, Yanuwar Dedy Setyawan, menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh rekan media yang ikut serta.

Baginya, hubungan yang terjalin selama ini bukan sekadar kerja sama, melainkan fondasi penting bagi tumbuhnya industri perhotelan.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman yang berbeda bagi rekan-rekan media,” ujarnya.

Biasanya, interaksi hanya terjadi dengan tim Marketing Communication. Namun tahun ini, seluruh perwakilan properti dari Region Batam dilibatkan agar hubungan yang sudah terbentuk bisa tumbuh lebih erat dan saling menguatkan.

Bagi Dedy, media adalah mitra strategis yang tak tergantikan. Industri perhotelan, menurutnya, bisa berkembang karena ada pemberitaan, ruang publikasi, dan kedekatan yang dirawat setiap hari.

“Tanpa media, perjalanan industri ini tidak akan sebesar sekarang. Karena itu, kami bersyukur bisa terus berkolaborasi dan bertumbuh bersama rekan-rekan jurnalis Batam,” katanya.

Pemilihan Yogyakarta sebagai destinasi pun bukan tanpa makna. Kota ini, bagi Dedy, punya daya tarik personal, semacam magnet kultural yang tak pernah kehilangan pesona. Ada romantika yang membuat siapa pun ingin kembali, meski sudah berkali-kali berkunjung.

“Ada sesuatu yang membuat saya rindu dengan Yogyakarta,” tuturnya.

“Kotanya penuh cerita, budaya. Saya ingin peserta dapat menyegarkan pikiran sekaligus merasakan pengalaman budaya yang berbeda dari biasanya,” lanjutnya.

Ia mengatakan, Jogja memiliki karakter lengkap. Kulinernya menggugah selera, tariannya memesona, dan suasana masyarakatnya hangat.

“Bukan berarti kota lain tidak menarik, tetapi Jogja punya keistimewaan yang sulit ditemukan di tempat lain,” ucapnya.

Melalui gelaran Media Connect 2025, Archipelago Group Region Batam meneguhkan komitmennya merawat hubungan yang berkelanjutan dengan media.

Namun lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini menjadi jembatan untuk merayakan kekayaan budaya Indonesia, bukan lewat cerita di balik meja, melainkan melalui pengalaman langsung di lapangan.

Jogja menjadi saksi. Bahwa hubungan yang baik tidak hanya dibangun di ruang-ruang rapat, tetapi juga dalam perjalanan yang dibagi, percakapan yang mengalir, dan pengalaman yang dirasakan bersama. (***)

Update