Minggu, 2 Oktober 2022

Cegah Kanker Hati, Penting Deteksi Dini Secara Berkala

Berita Terkait

Spesialis bedah Digestif Rumah Sakit Mayapada Surabaya, Dr. Anita Hartono (Istimewa)

batampos – Dalam tubuh, organ hati memiliki banyak fungsi penting. Salah satunya adalah membersihkan darah dari racun dan zat berbahaya, seperti alkohol, membantu proses pencernaan makanan serta mengontrol pembekuan darah.

Organ ini tak luput dari serangan kanker. Di Indonesia, kanker hati sendiri adalah penyakit yang paling mematikan keempat di Indonesia. Data dari Global Cancer Observatory (Globocan) 2020 mengungkapkan, kanker ini telah menyebabkan setidaknya 21.392 orang meninggal dunia.

Kanker adalah salah satu penyakit yang menyumbang angka kematian terbanyak di seluruh negara, termasuk Indonesia. Berdasarkan data WHO, kasus kematian yang disebabkan oleh kanker di Tanah Air berjumlah 234.511 kasus. Salah satunya disumbangkan oleh kanker hati.

Penyakit kanker hati terjadi ketika sel-sel hati bermutasi, kemudian membelah diri secara tak terkendali sehingga membentuk tumor. Kanker ini pun dapat menyebar ke organ lain.

Dr. Anita Hartono Spesialis bedah Konsultan Bedah Digestif mengatakan kanker hati pada dewasa secara garis besar dibagi dua, yaitu kanker hati primer dan kanker hati sekunder.
“Yang dimaksud dengan kanker hati primer adalah kanker yang berasal dari sel hati itu sendiri, yang paling sering adalah karsinoma sel hati (hepatocellular carcinoma). Sedangkan kanker hati sekunder adalah kanker yang tumbuh di hati yang merupakan penyebaran dari organ lain, seperti dari kanker usus besar, dari kanker payudara, atau dari kanker-kanker lainnya. Penyebab kanker hati primer yang paling sering adalah infeksi Hepatitis B, C, peminum alkohol yang kronis, dan kondisi hati yang sirosis,” ungkapnya kepada JawaPos.com.

Umumnya pada kanker hati ini tidak ada gejala awal yang khas, karenanya penyakit ini dikenal dengan nama silent killer atau pembunuh senyap.

Gejala itu timbul apabila sudah memasuki stadium lanjut, seperti kehilangan berat badan, lemas, mual dan muntah.

“Pada stadium lanjut akan timbul gejala kuning yang tampak pada mata, kulit, dan air kencing yang gelap seperti teh, timbul gatal-gatal di kulit, muntah darah, perut membesar berisi cairan, dan penurunan berat badan. Yang pada stadium awal tidak menimbulkan gejala,” jelas dia.

Dokter yang juga bertugas di Mayapada Hospital Surabaya ini menuturkan, penyakit ini tidak bisa diobati tanpa melalui pengobatan, artinya tetap dapat disembuhkan apabila ditemukan pada stadium dini.

“Terapi kuratif dapat dilakukan pada stadium dini dimana semua tumor dapat terangkat, dengan kondisi hati yang masih relatif baik. Sedangkan pada stadium lanjut jarang dapat mencapai kesembuhan, sehingga terapi yang diberikan bersifat paliatif atau suportif,” kata dia.

Pada stadium dini, terapi kuratif yang dapat diberikan berupa reseksi, transplantasi hati, atau ablasi. Setelah itu, pasien wajib melakukan follow up secara rutin.

“Sedangkan pada stadium lanjut kita berikan terapi sampai mendapatkan hasil optimal, seperti TACE (menutup pembuluh darah pemberi nutrisi ke tumor), terapi target, dan radioterapi,” serunya.

Oleh karenanya kunci keberhasilan dalam mengobati penyakit tersebut, Dr. Anita menyebutkan penting dalam melakukan deteksi dini secara berkala terutama pada mereka yang memiliki faktor risiko seperti infeksi virus hepatitis B, hepatitis C, dan sirosis, dimana pemeriksaan berkala itu dilakukan setiap 6 bulan sekali.

“Jadi setiap 6 bulan dilakukan USG hati dan pemeriksaan penanda tumor yaitu AFP dan atau PIVKA-II, dengan harapan kita akan mendeteksi tumor-tumor yang berukuran kecil, yang termasuk dalam stadium dini,” tandasnya. (*)

Reporter : Jpgroup

Update