
batampos – Banyak yang mengira keretakan rumah tangga selalu dimulai dengan pertengkaran hebat. Padahal, tanda-tanda ketidakbahagiaan sering kali muncul dari hal sepele, terutama lewat kebiasaan sebelum tidur. Rutinitas malam hari sebenarnya adalah momen paling jujur dalam sebuah hubungan karena di saat itulah pertahanan diri seseorang mulai menurun.
Para ahli hubungan menyebutkan bahwa perilaku seperti menjauh secara fisik atau asyik sendiri dengan ponsel di tempat tidur bisa menjadi sinyal emosional yang serius. Perasaan tidak puas, tertekan, atau terputus secara emosional sering kali tercermin dari bagaimana seseorang menutup harinya.
Dikutip dari Your Tango, berikut adalah beberapa tanda kebiasaan suami sebelum tidur yang perlu Anda perhatikan.
1. Sengaja Menarik Diri dan Menghindari Interaksi
Pernahkah Anda merasa suami sengaja begadang sendirian atau langsung memejamkan mata tanpa sepatah kata pun? Jika ini terjadi terus-menerus, bisa jadi ia sedang menarik diri secara emosional. Menghindari momen sebelum tidur sering kali menjadi cara seseorang melarikan diri dari perasaan yang sulit diungkapkan.
Penelitian dalam Personality and Social Psychology Bulletin menunjukkan bahwa perilaku menghindar justru memperburuk masalah. Pasalnya, orang yang menekan emosi cenderung tidak hanya kehilangan kemampuan mengelola stres, tetapi juga kesulitan menikmati momen positif bersama pasangannya.
2. Menjadikan Layar Ponsel sebagai Pelarian
Kebiasaan scrolling media sosial atau menonton video hingga larut malam di samping pasangan sering dianggap wajar. Namun, jika ini dijadikan tameng untuk menghindari obrolan, Anda patut waspada. Bagi sebagian pria, layar ponsel menjadi “tempat aman” untuk melarikan diri dari tekanan batin.
Hiburan digital ini memberikan kenyamanan sementara, namun di sisi lain menciptakan jarak yang lebar. Pasangan akan merasa diabaikan, sementara suami merasa aman karena “tidak diganggu”, padahal keduanya sedang kehilangan kedekatan yang esensial.
3. Hilangnya Ruang Aman untuk Terbuka
Pria yang tidak memiliki ruang aman untuk bercerita cenderung memendam emosinya. Sayangnya, emosi yang terpendam ini bisa meledak menjadi kecemasan atau frustrasi. Para ahli menilai bahwa pernikahan yang minim keterbukaan membuat kedua belah pihak rentan terhadap stres emosional.
Tanpa komunikasi yang jujur, keintiman akan memudar meski rutinitas harian tetap berjalan normal. Menciptakan waktu tanpa gangguan sebelum tidur bisa menjadi langkah awal untuk membangun kembali kepercayaan tersebut.
4. Lingkaran Emosi Negatif yang Terus Berulang
Ketidakbahagiaan dalam pernikahan sering kali berkaitan erat dengan kondisi mental seseorang. Studi dalam Couple and Family Psychology menunjukkan bahwa ketidakpuasan pernikahan dan depresi sering kali saling berkaitan.
Kabar baiknya, kondisi ini tidak permanen. Perubahan kecil seperti tidur di waktu yang sama atau sekadar saling bertanya kabar tanpa gangguan gadget bisa membawa dampak besar. Pernikahan yang baik bukan tentang perubahan besar dalam semalam, melainkan konsistensi dalam hal-hal kecil.
Perhatikan Sinyal Kecil Sebelum Terlambat
Jika suami menunjukkan perubahan sikap sebelum tidur, jangan langsung berasumsi pernikahan Anda gagal. Bisa jadi, itu adalah sinyal bahwa ia sedang membutuhkan dukungan dan ruang untuk terbuka.
Jadikan momen di akhir hari sebagai kesempatan untuk membangun kembali koneksi. Ingat, rasa aman dan keintiman sering kali dimulai dari percakapan sederhana di atas bantal.(*)
