Rabu, 17 Agustus 2022

Begini Cara Atasi Batuk yang Masih Terjadi Usai Sembuh dari Covid-19

Berita Terkait

Prebiotik Bisa Halau Jerawat

Ternyata Nikotin Bisa Bantu Kurangi Rasa Depresi

PERLU PROTEKSI: Waspadai batuk berdahak yang berlangsung lama. Jika belum mendapatkan vaksin BCG saat bayi, vaksin bisa diterima hingga orang dewasa berusia 16-36 tahun. (Dite Surendra/Jawa Pos)

batampos – Batuk terus menerus meski sudah dinyatakan sembuh dari covid-19 sering terjadi di beberapa pasien.

Salah satunya dialami oleh pria Singapura yakni eksekutif operasi Charmaine Yeo, 29. Ia menderita batuk yang mengganggu sejak pulih dari Covid-19 pada Mei.

“Saya membawa obat batuk sepanjang waktu sekarang karena saya tidak pernah tahu kapan saya akan mengalami serangan batuk,” katanya seperti dilansir dari Straits Times, Selasa (2/8).

Menurut sebuah penelitian yang dipimpin oleh National Center for Infectious Diseases yang dimulai pada Januari 2020, 1 dari 10 pasien Covid-19 yang sembuh memiliki gejala persisten, seperti batuk yang berkepanjangan dan sesak napas, 6 bulan setelah terinfeksi.

Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal berjudul Lung pada Juni 2021 menunjukkan bahwa sekitar 2,5 persen dari 1.950 orang di Madrid, Spanyol, masih batuk setahun setelah terinfeksi Covid-19.

Jadi apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi batuk terus-menerus?

Seorang spesialis penyakit menular di Klinik Rophi, dr Leong Hoe Nam mengatakan pasien Covid-19 umumnya batuk untuk membersihkan dahak atau meredakan gatal yang terus-menerus di tenggorokan mereka. Namun, lebih baik mencoba untuk meredakan batuk.

“Jika Anda batuk tanpa henti, Anda akan merobek bagian dalam tenggorokan dan menyebabkan lebih banyak batuk. Sebaliknya, cobalah untuk meredakan sebagian batuk. Ini akan membantu batuk menjadi lebih baik,” ungkap dr. Leong.

Baca juga : Selain Kunyit dan Jahe, Teh Hijau Masuk dalam Herbal Antistres

Dia menambahkan bahwa pasien Covid-19 yang pulih mungkin mengalami batuk terus-menerus karena berbagai hal. Misalnya sinusitis, refluks gastroesofageal, masalah saluran napas seperti asma dan bronkitis, serta iritasi saraf di tenggorokan.

Sementara itu, untuk batuk yang disebabkan oleh sinusitis, dr Leong menyarankan orang untuk minum lebih banyak air, menggunakan obat kumur sinus dan menghirup uapnya.

Namun, bagi mereka yang menderita gastroesophageal reflux harus menghindari minum kopi dan makan makanan berminyak, berlemak dan pedas.

Pasien Covid-19 yang sembuh dan memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti bronkitis dan asma juga cenderung mengalami batuk berkepanjangan. Dengan bronkitis, saluran udara bisa tersumbat dengan sekresi atau seseorang mungkin memiliki kecenderungan asma yang dapat memicu batuk kronis. Sindrom hiper-reaktivitas bronkial pasca-virus juga dapat terjadi setelah pemulihan Covid-19.

Ini berarti saluran udara menjadi sangat sensitif setelah infeksi Covid-19 menyebabkannya bereaksi berlebihan terhadap pemicu seperti asap, udara dingin, dan minuman dingin, yang dapat menyebabkan batuk berkepanjangan. Dalam kasus seperti itu, ia menyarankan orang untuk minum lebih banyak air hangat.

Untuk Batuk karena Gejala Neuropatik

Saraf seseorang di tenggorokan juga dapat rusak setelah infeksi Covid-19, sehingga mengakibatkan batuk neuropatik.
Berada di suhu dingin dan mengonsumsi makanan pedas atau asam juga bisa memicu batuk seperti itu.

Ia menyarankan untuk menenangkan tenggorokan dengan meminum madu dengan air hangat. Pada akhirnya, dr Leong menyarankan orang untuk menemui dokter untuk mengetahui penyebab batuk dan mendapatkan pengobatan yang tepat sasaran. Rontgen dada atau pemindaian dapat dilakukan jika perlu dan obat-obatan juga dapat diresepkan. (*)

Reporter : JP Group

Update