Sabtu, 24 Januari 2026

Bayer Ajak Masyarakat Pahami Pengendalian Hipertensi untuk Cegah Komplikasi Serius

Berita Terkait

batampos– Hipertensi masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Saat ini 1 dari 3 orang dewasa hidup dengan tekanan darah tinggi, hanya 18,9 persen pasien yang mencapai tekanan darah terkontrol. Kondisi ini menempatkan jutaan orang pada risiko komplikasi serius seperti strok, serangan jantung, hingga gagal ginjal yang sering kali tanpa gejala apa pun.

Dalam momentum Hari Kesehatan Nasional, Bayer Indonesia kembali menekankan pentingnya edukasi publik mengenai manajemen hipertensi melalui sesi “The Science Behind: The Importance of 24-hour Hypertension Management.” Program ini membahas pendekatan ilmiah dalam pengendalian tekanan darah sepanjang 24 jam, termasuk risiko morning surge, lonjakan tekanan darah tajam yang terjadi pada pagi hari.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa dari 1,4 miliar penyandang hipertensi berusia 30-79 tahun di seluruh dunia. Meskipun banyak yang telah terdiagnosis dan menjalankan pengobatan (sekitar 44%), hanya 320 juta (23%) yang mengontrol hipertensi mereka. Di Indonesia prevalensinya mencapai 30,8% pada penduduk berusia 18 tahun atau lebih. Artinya, hampir 1 dari 3 orang dewasa Indonesia hidup dengan tekanan darah tinggi. Namun hanya 8,6 persen pasien yang terdiagnosis oleh Dokter, dan dari jumlah itu pun tak sampai separuhnya yang rutin mengonsumsi obat anti hipertensi (46,7%). Bahkan, dari pengonsumsi rutin pun hanya 18,9% yang berhasil mencapai tekanan darah terkontrol.

BACA JUGA: Ini Minuman yang Terbukti Ampuh Menurunkan Hipertensi, Cepat dan Alami

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi, dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, menegaskan bahaya tekanan darah tinggi yang sering terabaikan.

“Hipertensi dijuluki ‘the silent killer’ bukan tanpa alasan. Kondisi ini sering tidak bergejala, tetapi diam-diam dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital seperti jantung, ginjal, otak, dan pembuluh darah. Bahkan, sebagian besar pasien baru menyadari mereka mengidap hipertensi setelah mengalami komplikasi serius, seperti strok, kerusakan ginjal, dan serangan jantung. Sayangnya, proporsi pasien hipertensi di Indonesia yang belum terkendali masih sangat besar – mencapai 81,1%. Salah satunya disebabkan rendahnya kepatuhan pasien terhadap pengobatan hipertensi, dan minimnya pemantauan tekanan darah secara mandiri,” ujarnya.

Tekanan darah manusia mengikuti ritme sirkadian tubuh. Salah satu fase paling kritis adalah morning surge yaitu lonjakan tekanan darah tajam antara pukul 06.00–10.00 pagi.

dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH menjelaskan,” Morning surge adalah momen paling berisiko. Lonjakan tekanan darah setelah bangun tidur dapat memicu strok atau serangan jantung, terutama pada pasien hipertensi derajat 2 dan 3. Inilah mengapa pasien perlu melakukan pengecekan tekanan darah secara mandiri dan teratur di pagi dan malam hari. Selain itu penting untuk patuh menjalankan pengobatan agar tekanan darah terkendali selama 24 jam untuk melindungi pasien dari komplikasi serius.”

Hipertensi terjadi ketika tekanan darah arteri secara konsisten berada di atas 130/85 mmHG dan berlangsung secara kronis (terus-menerus). Guna mencapai kontrol tekanan darah yang optimal, pengelolaan hipertensi memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan gaya hidup sehat dan penggunaan obat-obatan sesuai rekomendasi dokter. Pasien perlu menjaga berat badan ideal melalui pola makan seimbang dengan memperbanyak sayur, buah, dan protein sambil membatasi asupan garam, serta dibarengi aktivitas fisik rutin minimal 30 menit per hari selama 3 – 5 hari per minggu, seperti jalan kaki, berenang atau bersepeda. Tak kalah penting, pasien harus membatasi konsumsi alkohol dan menghentikan kebiasaan merokok sebagai faktor risiko utama penyakit kardiovaskular.

Pasien Memegang Peran Utama dalam Manajemen Hipertensi

Pengelolaan hipertensi tidak hanya bergantung pada dokter, pasien memegang peranan utama. Pemantauan mandiri, kepatuhan mengonsumsi obat, dan pencatatan tekanan darah harian menjadi dasar bagi dokter untuk mengevaluasi terapi.

“Dokter hanya dapat menilai kondisi dan menyesuaikan terapi berdasarkan data yang diberikan pasien, mulai dari catatan tekanan darah, kepatuhan obat, hingga keluhan harian. Semakin lengkap data tersebut, semakin tepat keputusan klinis yang dapat diambil. Data mandiri inilah yang memungkinkan dokter menentukan apakah pasien membutuhkan intensifikasi terapi, pergantian obat, atau perubahan gaya hidup tertentu,” ungkap dr. Tunggul.

dr. Tunggul juga menekankan pentingnya komunikasi aktif antara pasien dan tenaga medis. “Manajemen hipertensi membutuhkan konsistensi, termasuk kepatuhan konsumsi obat sesuai anjuran dokter. Sebab, tidak semua obat anti hipertensi sama. Obat yang ideal harus memenuhi karakteristik berbasis ilmiah, terjangkau dan mudah diakses, dapat ditoleransi baik oleh pasien, serta memiliki bukti manfaat nyata pada populasi yang dituju.”

Penelitian klinis menunjukkan penurunan 10 mmHg tekanan darah sistolik dapat mengurangi risiko strok hingga 27%, kejadian kardiovaskular mayor hingga 20%, dan gagal jantung hingga 28%. Hal ini menegaskan bahwa kepatuhan konsumsi obat dan memantau tekanan darah dapat berdampak besar.

Pendekatan 24 Jam: Pentingnya Kepatuhan Terapi

Pedoman WHO 2021 Guidelines dan PERHI 2021, batasan normal apabila tekanan darah sistolik <130 mmHg dan/atau diastolik <85 mmHg. Untuk mencapainya, pengendalian tekanan darah harus berlangsung stabil selama 24 jam, tidak hanya saat kunjungan ke fasilitas kesehatan.

Sebagai perusahaan global berbasis sains, Bayer menyediakan obat inovatif yang dirancang menjaga kestabilan tekanan darah sepanjang hari. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi Osmotic-controlled Release Oral Delivery System (OROS) pada Nifedipine GITS yang memungkinkan pelepasan obat secara stabil selama 24 jam, melindungi pasien dari morning surge dan menjaga tekanan darah tetap terkontrol. Nifedipine GITS (OROS) tergolong sebagai Calcium Channel Blocker (CCB) – 1 dari 5 kelompok obat terapi hipertensi yang sangat efektif, terutama bagi populasi Asia dan lanjut usia.

dr. Irawan Septian Nugroho, MBBS, MMed (Int. Med), Medical Lead Bayer Indonesia, menjelaskan, “Teknologi OROS bekerja dengan memanfaatkan tekanan osmotik untuk mendorong kandungan dalam Nifedipine keluar dari tabletnya secara perlahan dan konsisten sepanjang hari. Hasilnya, kadar obat dalam darah tetap datar dan stabil selama 24 jam. Ini membantu pasien mencapai kontrol tekanan darah yang lebih konsisten dengan konsumsi hanya sekali sehari. Manfaat lanjutannya, kepatuhan pasien cenderung meningkat.”

Studi klinis berskala besar seperti INSIGHT dan ACTION menunjukkan bahwa Nifedipine GITS (OROS) memiliki profil keamanan dan efektivitas tinggi. Dalam studi jangka panjang lebih dari 5 tahun, Nifedipine GITS terbukti memberikan penurunan tekanan darah yang stabil tanpa menyebabkan hipotensi atau peningkatan detak jantung.

“Melalui edukasi berbasis sains dan penyediaan obat inovatif seperti Nifedipine GITS berteknologi OROS di Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Bayer berkomitmen mendukung manajemen hipertensi yang optimal untuk melindungi pasien Indonesia dari komplikasi serius dan membantu mereka menjalani hidup yang lebih sehat dan produktif,” tutup dr. Irawan.

Tentang Bayer
Bayer adalah perusahaan global dengan kompetensi inti di bidang Life Science terkait kesehatan dan pertanian. Sesuai dengan misinya Health for all Hunger for none, produk dan layanan perusahaan dirancang untuk membantu manusia dan planet yang terus berkembang, mendukung upaya mengatasi tantangan utama yang dihadapi oleh populasi dunia yang semakin bertambah dan menua. Bayer berkomitmen untuk mendorong pembangunan berkelanjutan dan menghasilkan dampak positif melalui bisnisnya. Pada saat yang sama, perusahaan bertujuan untuk meningkatkan daya hasil dan menciptakan nilai melalui inovasi dan pertumbuhan. Merek Bayer melambangkan kepercayaan, keandalan, dan kualitas di seluruh dunia. Pada tahun fiskal 2024, perusahaan mempekerjakan sekitar 93.000 karyawan dan memiliki penjualan sebesar 46,6 miliar euro. Biaya riset dan pengembangan (R&D) mencapai 6,2 miliar euro. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.bayer.com atau www.bayer.co.id. (*)

 

Update