
batampos – Vape kembali jadi sorotan karena kandungan berbahayanya bagi tubuh. Perangkat elektronik ini bekerja dengan memanaskan cairan berisi nikotin, perasa, dan zat kimia lain hingga berubah menjadi aerosol yang dihirup pengguna.
Dikutip dari People, penggunaan vape memungkinkan zat-zat berbahaya masuk ke paru-paru dan menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.
Pertama, pada paru dan sistem pernapasan, vape dapat memicu peradangan saluran napas, asma, bronkitis, hingga penyakit serius seperti EVALI. Kandungan diacetyl dalam cairan vape juga berisiko menyebabkan popcorn lung atau bronchiolitis obliterans, kondisi yang tidak bisa disembuhkan.
Kedua, pada jantung dan sistem kardiovaskular, nikotin dalam vape meningkatkan tekanan darah, denyut jantung, serta risiko penyakit jantung, serangan jantung, dan stroke.
Ketiga, dampak pada kesehatan mulut dan gigi. Vape bisa memicu gigi berlubang, erosi enamel, penyakit gusi, perubahan warna gigi, hingga bau mulut kronis.
Keempat, pada kesehatan otak dan mental, nikotin merupakan zat adiktif yang dapat mengganggu perkembangan otak remaja hingga usia 25 tahun. Efeknya mencakup gangguan perhatian, pembelajaran, dan kontrol impuls.
Kelima, terkait potensi kanker. Meski kandungan karsinogen pada vape lebih sedikit dibanding rokok, zat seperti acrolein bisa menyebabkan penyakit paru kronis dan berpotensi memicu kanker, terutama jika pengguna juga merokok tembakau.
Dari sisi lingkungan, vape sekali pakai menyumbang sampah elektronik dan plastik berbahaya. Baterai lithium yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan atau bahkan memicu kebakaran.
Para ahli menegaskan, vape bukan pilihan aman bagi remaja, nonperokok, dan ibu hamil. Risiko kecanduan serta dampak negatif jangka panjang dari vape dinilai sangat nyata. (*)
Reporter: Juliana Belence
