Selasa, 3 Februari 2026

Apa Itu Epstein Files? Kronologi Lengkap Kasus Jeffrey Epstein yang Menggemparkan Dunia

Berita Terkait

Jeffrey Eipstein. F. x.com/jacksonhinklle.

batampos – Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) resmi merilis lebih dari tiga juta halaman dokumen terkait investigasi kasus Jeffrey Epstein. Perilisan ini dilakukan sebagai bagian dari pelaksanaan undang-undang baru bertajuk Epstein Files Transparency Act.

Selain dokumen tertulis, arsip yang dibuka ke publik juga mencakup sekitar 2.000 video dan 180.000 gambar. Seluruh materi tersebut merupakan bagian dari kumpulan besar dokumen investigasi kriminal yang dikenal dengan nama Epstein Files.

Mengutip laman justice.gov dan britannica.com, Epstein Files berisi catatan penyelidikan terhadap Jeffrey Epstein, seorang financier asal Amerika Serikat yang telah dihukum atas kejahatan perdagangan seks terhadap anak di bawah umur.

Undang-undang Epstein Files Transparency Act sendiri disahkan oleh Kongres AS pada 18 November 2025. Regulasi ini mewajibkan pemerintah membuka arsip investigasi yang selama bertahun-tahun tertutup, termasuk catatan komunikasi serta hubungan sosial Epstein dengan sejumlah tokoh terkenal.

Kronologi Kasus Jeffrey Epstein

Kasus Epstein bermula pada 1996, ketika laporan pertama muncul dari seorang korban remaja yang melaporkan dugaan pelecehan kepada aparat penegak hukum.

Pada 2005, Kepolisian Palm Beach memulai penyelidikan terkait laporan pembayaran kepada seorang gadis berusia 14 tahun untuk praktik pijat. Setahun kemudian, pada 2006, grand jury mendakwa Epstein atas satu tuduhan soliciting prostitution.

Periode 2007–2008 menjadi sorotan publik setelah jaksa federal awalnya menyiapkan sekitar 60 dakwaan. Namun, proses hukum berakhir dengan kesepakatan kontroversial yang memungkinkan Epstein hanya mengaku bersalah atas tuduhan tingkat negara bagian.

Pada 2008, Epstein dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, namun dibebaskan setelah menjalani sekitar 13 bulan dengan fasilitas cuti kerja pada siang hari.

Nama Epstein kembali mencuat pada 2011 ketika Virginia Giuffre—dikenal sebagai Jane Doe 102—menjual kisah serta foto-fotonya bersama Pangeran Andrew kepada media Inggris.

Rentang waktu 2015 hingga 2019, Giuffre menggugat Ghislaine Maxwell atas pencemaran nama baik. Gugatan ini turut berkontribusi pada terbukanya sejumlah dokumen hukum yang lebih luas.

Pada November 2018, investigasi jurnalistik oleh Miami Herald mengungkap luasnya jaringan korban dan menyoroti kelemahan proses hukum sebelumnya.

Kasus ini kembali memanas pada 6 Juli 2019, ketika Epstein ditangkap atas tuduhan federal sex trafficking dan konspirasi. Namun, pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di dalam sel tahanan. Penyelidikan resmi menyimpulkan kematiannya sebagai bunuh diri.

Pada 2024, beberapa dokumen awal mulai dibuka oleh pengadilan federal, memicu gelombang tuntutan transparansi publik. Puncaknya terjadi pada November 2025, saat Epstein Files Transparency Act disahkan dan membuka jalan bagi rilis arsip besar-besaran.

Periode 19 Desember 2025 hingga Januari 2026, DOJ mulai merilis jutaan halaman dokumen, foto, video, serta data investigasi ke publik.

Meski demikian, perilisan dokumen ini menuai kritik dari kelompok korban. Mereka menilai arsip yang dibuka masih belum lengkap, sementara sejumlah pihak yang diduga terlibat belum sepenuhnya terungkap. Selain itu, muncul kekhawatiran terkait pengungkapan identitas korban yang dinilai tidak dilakukan secara hati-hati.

Sejumlah anggota legislatif, khususnya dari Partai Demokrat, juga menuding DOJ belum sepenuhnya mematuhi ketentuan undang-undang yang mewajibkan pengungkapan penuh seluruh file relevan terkait kasus Epstein. (*)

Update