
batampos – Brand gaya hidup asal Amerika Serikat, Let Loose, meluncurkan produk unik bernama Sh*t Shoes, sandal platform yang dirancang khusus untuk membantu pengguna mendapatkan posisi tubuh lebih nyaman saat buang air besar (BAB).
Produk tersebut diperkenalkan melalui akun Instagram resmi @takeletloose dan langsung menarik perhatian warganet karena desain serta fungsinya yang tak biasa.
Sandal ini disebut sebagai alternatif yang lebih bergaya dibandingkan toilet stool atau bangku pijakan yang umum digunakan pada toilet duduk.
Sh*t Shoes hadir dengan desain bergaya retro dan memiliki sol setinggi sekitar 7 inci atau hampir 18 sentimeter. Ketinggian itu dirancang agar lutut berada lebih tinggi dari pinggul saat pengguna duduk di toilet sehingga menciptakan posisi yang menyerupai jongkok.
Posisi tersebut dipercaya dapat membantu proses buang air besar menjadi lebih lancar karena otot di sekitar rektum menjadi lebih rileks dan tekanan saat mengejan berkurang.
Ide pembuatan Sh*t Shoes berasal dari pengalaman pendiri sekaligus CEO Let Loose, Alexandra Houx Grounds, yang mengaku pernah mengalami gangguan pencernaan seperti sembelit dan perut kembung.
Melalui produknya, ia ingin menghadirkan solusi yang lebih menarik untuk persoalan kesehatan pencernaan yang selama ini dianggap sebagai topik tabu.
Meski berbentuk sandal, Let Loose menegaskan Sh*t Shoes bukan untuk digunakan sebagai alas kaki sehari-hari. Produk tersebut hanya dirancang untuk dipakai saat berada di toilet.
Sh*t Shoes dipasarkan secara terbatas dengan harga sekitar US$69 atau sekitar Rp1,1 juta (kurs Rp16.000 per dolar AS).
Peluncuran produk itu memicu beragam tanggapan di media sosial. Sebagian pengguna menilai Sh*t Shoes sebagai inovasi kreatif yang menggabungkan fungsi kesehatan dengan desain unik, sementara lainnya menganggapnya sebagai salah satu produk paling nyeleneh yang pernah hadir di industri fesyen.
Terlepas dari pro dan kontra, strategi Let Loose berhasil menarik perhatian publik. Sh*t Shoes pun menjadi contoh bagaimana produk sederhana dengan konsep berbeda dapat viral dan menjadi bahan perbincangan di media sosial. (*)
