Rabu, 15 Juli 2026

8 Kesalahan Saat Basa-Basi

Berita Terkait

ilustrasi | Unsplash

batampos – Basa-basi atau small talk sering dianggap sebagai percakapan ringan yang tidak terlalu penting. Padahal, obrolan singkat ini menjadi pintu awal untuk membangun hubungan, baik dalam lingkungan kerja, pertemanan, maupun kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, banyak orang tanpa sadar melakukan kesalahan yang membuat percakapan terasa canggung, membosankan, atau berhenti begitu saja. Mulai dari terlalu banyak membicarakan diri sendiri hingga tidak benar-benar mendengarkan, kebiasaan kecil ini dapat mengurangi kualitas komunikasi.

Mengutip Geediting.com, berikut delapan kesalahan saat basa-basi yang sebaiknya dihindari agar percakapan lebih menyenangkan dan mampu membangun kedekatan.

1. Terlalu Banyak Membicarakan Diri Sendiri

Menceritakan pengalaman pribadi memang bisa membuat percakapan lebih hidup. Namun, jika hampir seluruh obrolan hanya berisi cerita tentang diri sendiri, lawan bicara bisa merasa diabaikan.

Percakapan yang baik bersifat dua arah. Sisihkan waktu untuk mengajukan pertanyaan dan beri kesempatan orang lain berbagi pengalaman mereka.

2. Tidak Benar-Benar Mendengarkan

Mendengarkan secara aktif adalah salah satu keterampilan komunikasi yang paling penting. Ketika Anda memperhatikan apa yang disampaikan lawan bicara, mereka akan merasa dihargai.

Sebaliknya, terlihat tidak fokus atau hanya menunggu giliran berbicara dapat membuat orang kehilangan minat untuk melanjutkan percakapan.

3. Langsung Membahas Topik Kontroversial

Topik seperti politik, agama, atau kondisi keuangan pribadi sering kali memicu perdebatan dan emosi yang kuat, terutama saat baru mengenal seseorang.

Sebagai gantinya, pilih topik yang lebih ringan seperti hobi, makanan, film, perjalanan, atau aktivitas sehari-hari agar suasana tetap nyaman.

4. Menghindari Kontak Mata

Kontak mata menunjukkan bahwa Anda hadir dan tertarik pada percakapan. Sebaliknya, terlalu sering melihat ponsel atau mengalihkan pandangan dapat memberi kesan tidak peduli.

Namun, lakukan secara alami. Kontak mata yang berlebihan juga bisa membuat lawan bicara merasa tidak nyaman.

5. Kurang Menunjukkan Empati

Ketika seseorang menceritakan pengalaman atau perasaannya, tunjukkan bahwa Anda memahami apa yang mereka rasakan.

Empati dapat membuat percakapan terasa lebih hangat dan membantu membangun hubungan yang lebih dekat.

6. Terlalu Sering Menggunakan Respons Klise

Jawaban seperti “Oh, begitu ya,” atau “Iya, benar,” secara berulang bisa membuat percakapan terasa datar.

Cobalah memberikan tanggapan yang lebih tulus dan spesifik agar lawan bicara merasa Anda benar-benar terlibat dalam pembicaraan.

7. Tidak Mengajukan Pertanyaan Terbuka

Pertanyaan yang hanya bisa dijawab “ya” atau “tidak” sering membuat percakapan cepat berhenti.

Sebaliknya, gunakan pertanyaan terbuka, misalnya:

“Apa yang paling kamu sukai dari pekerjaanmu?”
“Bagaimana pengalamanmu saat liburan itu?”
“Menurutmu, apa yang membuat film itu menarik?”

Pertanyaan seperti ini memberi ruang bagi lawan bicara untuk bercerita lebih banyak.

8. Lupa Menindaklanjuti Percakapan

Salah satu cara menunjukkan perhatian adalah mengingat hal yang pernah diceritakan seseorang, lalu menanyakannya kembali di kesempatan berikutnya.

Misalnya, jika teman Anda pernah bercerita tentang wawancara kerja, Anda bisa bertanya, “Bagaimana hasil wawancaranya?”

Tindakan sederhana ini menunjukkan bahwa Anda benar-benar mendengarkan dan menghargai apa yang mereka sampaikan.

Basa-Basi yang Baik Membangun Hubungan

Basa-basi bukan sekadar mengisi keheningan, tetapi menjadi langkah awal membangun kepercayaan dan hubungan yang lebih akrab. Dengan mendengarkan secara aktif, menunjukkan empati, serta mengajukan pertanyaan yang tepat, percakapan sederhana dapat berkembang menjadi hubungan yang lebih bermakna.

Menghindari delapan kesalahan di atas juga dapat membantu Anda meninggalkan kesan positif dan membuat lawan bicara lebih nyaman untuk kembali berbincang di lain waktu. (*)

Update