Minggu, 3 Mei 2026

Waspada! Cuaca Panas Ekstrem Bisa Picu Gangguan Hormon dan Metabolisme

Berita Terkait

Ilustrasi menghilangkan gerah karena cuaca panas.(Lombok Post)

batampos – Cuaca panas ekstrem tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat berdampak serius terhadap keseimbangan hormon dalam tubuh.

Wakil Konsultan Endokrinologi di Rumah Sakit Sir HN Reliance, India, Dr. Rashi Agarwal, mengungkapkan paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat mengganggu sistem hormonal manusia.

“Meningkatnya suhu bukan hanya tidak nyaman, tetapi juga dapat secara signifikan mengganggu keseimbangan hormonal, terutama di wilayah dengan paparan panas berkepanjangan,” ujarnya, dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (2/5).

Ia menjelaskan, tubuh manusia mengatur keseimbangan internal melalui hipotalamus, bagian otak yang sensitif terhadap suhu dan berperan dalam mengontrol berbagai hormon. Saat tubuh terpapar panas ekstrem, sistem ini mengalami tekanan yang memicu gangguan hormonal.

Salah satu dampak yang paling terlihat adalah peningkatan hormon stres atau kortisol. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, mudah marah, gangguan tidur, hingga peningkatan lemak tubuh.

Selain itu, dehidrasi akibat panas juga dapat mengganggu fungsi tiroid, yang berperan dalam mengatur metabolisme. Akibatnya, seseorang bisa mengalami gejala seperti lesu dan sulit berkonsentrasi.

Cuaca panas juga berdampak pada sensitivitas insulin. Pada penderita pradiabetes atau diabetes, kondisi ini berpotensi menyebabkan fluktuasi kadar gula darah.

Pada perempuan, suhu ekstrem dapat memengaruhi sistem hormon reproduksi, sehingga memicu siklus menstruasi tidak teratur, memperparah gejala pramenstruasi, hingga gangguan kesuburan sementara.

Tak hanya itu, ketidakseimbangan elektrolit akibat panas juga bisa berdampak pada hormon adrenal. Gejalanya antara lain pusing, lemas, hingga jantung berdebar.

Dr. Agarwal mengingatkan sejumlah tanda yang perlu diwaspadai, seperti kelelahan berkepanjangan meski sudah beristirahat, gangguan tidur, perubahan suasana hati, siklus menstruasi tidak teratur, hingga perubahan berat badan tanpa sebab jelas.

Untuk mencegah dampak tersebut, masyarakat disarankan menjaga asupan cairan tubuh, menghindari aktivitas di jam puncak panas, serta memastikan pola makan seimbang dengan kandungan elektrolit yang cukup.

Selain itu, menjaga kualitas tidur juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas hormon.

“Individu dengan gangguan endokrin perlu lebih waspada dan melakukan pemantauan ketat selama gelombang panas. Panas ekstrem bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga pemicu stres hormonal,” tegasnya.

Ia menambahkan, mengenali gejala sejak dini dapat membantu mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan metabolik.(*)

SourceAntara

Update