Jumat, 20 Februari 2026

Perang Netizen Korea dan ASEAN Memanas, Tagar Boikot KPop Viral

Berita Terkait

Sumber: threads.com/@arfzulfikar.

batampos – Media sosial diramaikan perang komentar antara netizen Korea Selatan dan netizen Asia Tenggara. Perdebatan panas itu bahkan memunculkan isu boikot terhadap konten budaya Korea seperti KPop dan KDrama.

Istilah KNetz (Korean netizen) dan SEAblings (sebutan untuk netizen Asia Tenggara) menjadi sorotan setelah saling melontarkan komentar bernada sindiran hingga rasis di berbagai platform, terutama di X.

Perseteruan ini bermula dari konser grup band Korea, DAY6, di Malaysia. Saat itu, beberapa fansite asal Korea disebut membawa kamera profesional yang dianggap melanggar aturan konser. Teguran dari penonton lokal kemudian diunggah ke media sosial dan menjadi viral.

Unggahan tersebut memicu reaksi dari sejumlah KNetz yang dinilai meremehkan dan melontarkan komentar bernada stereotip terhadap penonton Asia Tenggara. Respons itu memancing kemarahan netizen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Perang komentar pun tak terhindarkan. Tagar seperti #SEAblings dan #knetz ramai digunakan. Sejumlah unggahan bahkan mengandung unsur rasisme yang menyinggung identitas budaya dan fisik masyarakat Asia Tenggara.

Situasi semakin memanas ketika beberapa figur publik dari negara ASEAN ikut terseret dalam perdebatan dan menjadi sasaran kritik. Meme, potongan tangkapan layar, hingga kampanye digital turut meramaikan linimasa.

Di tengah konflik tersebut, muncul seruan untuk memboikot produk hiburan Korea, termasuk KPop dan KDrama. Ajakan boikot digaungkan melalui berbagai tagar dan kampanye daring, dengan tuntutan agar industri hiburan Korea bertanggung jawab atas komentar yang dianggap rasis.

Namun, sejumlah akun KNetz membalas dengan menyatakan bahwa negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tidak akan memberi dampak signifikan jika melakukan boikot. Pernyataan itu justru memicu gelombang komentar balasan dari netizen Indonesia hingga unggahan tersebut akhirnya dinonaktifkan.

Fenomena ini juga memicu refleksi tentang pentingnya menghormati etika dan budaya lokal dalam setiap interaksi lintas negara, termasuk dalam penyelenggaraan konser dan aktivitas penggemar.

Hingga kini, perdebatan di media sosial masih berlangsung. Di sisi lain, sebagian netizen Asia Tenggara menjadikan momentum ini untuk mendorong dukungan terhadap musisi dan industri hiburan lokal agar semakin berkembang dan mendunia. (*)

Update