
batampos – Selama 22 tahun hidup tanpa mengetahui mengidap penyakit jantung bawaan (PJB), Nurdiana akhirnya mendapatkan penanganan medis yang mengubah kualitas hidupnya. Perempuan asal Tanjungpinang itu menjadi salah satu pasien dewasa pertama yang menjalani tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa bedah terbuka di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam.
Tindakan tersebut menandai tonggak baru layanan kesehatan di Kepulauan Riau. Pada 2026, RSBP Batam untuk pertama kalinya menghadirkan layanan intervensi PJB non-invasif bagi pasien dewasa, yang sebelumnya hanya tersedia untuk pasien anak dan umumnya harus dirujuk ke luar daerah.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBP Batam, dr. Muhammad Yanto, mengatakan layanan ini menjadi terobosan penting bagi masyarakat Kepri yang selama ini bergantung pada rumah sakit rujukan nasional.
Baca Juga: Minggu Tenang Penuh Makna, Ini 6 Shio Paling Beruntung 8 Februari 2026
“Ini menjadi pertama kalinya di rumah sakit di Batam, khususnya RSBP Batam, dilakukan tindakan penyakit jantung bawaan untuk pasien dewasa. Kalau sebelumnya hanya anak-anak, kini usia di atas 18 tahun sudah bisa kami tangani di sini,” ujarnya, Sabtu (7/2).
Pelaksanaan perdana dilakukan melalui program proctorship dengan pendampingan dokter tamu. Sebanyak enam pasien dewasa menjalani tindakan intervensi di fasilitas catheterization laboratory (cathlab) RSBP Batam setelah melalui proses skrining medis ketat sesuai standar keselamatan pasien.
Muhammad Yanto menjelaskan, perbedaan utama layanan ini terletak pada kompetensi tenaga medis yang mampu menangani kelainan jantung bawaan lintas kelompok usia.
“Untuk anak sebelumnya sudah dilakukan oleh dokter spesialis anak konsultan jantung. Di RSBP Batam, tindakan ini ditangani dokter spesialis jantung konsultan penyakit jantung bawaan yang mampu menangani pasien dari anak hingga dewasa secara non-invasif. Ini yang pertama di Kepulauan Riau,” jelasnya.
Salah satu dokter tamu, Radityo Prakoso, Sp.JP(K), FIHA, mengungkapkan masih tingginya antrean pasien PJB di pusat rujukan nasional.
Baca Juga: Masak Apa Hari Ini? Yuk Coba Capcay Kuah Kental Gurih ala Restoran Tionghoa
“Di Jakarta saja, sekitar 6.000 bayi masih menunggu penanganan penyakit jantung bawaan. Dengan keterbatasan kapasitas layanan, tidak semua pasien tertangani optimal, bahkan ada yang meninggal sebelum mendapat jadwal tindakan,” ungkapnya.
Menurut Radityo, hadirnya layanan intervensi PJB di daerah seperti RSBP Batam menjadi solusi penting agar pasien tidak sepenuhnya bergantung pada rumah sakit rujukan nasional.
Sementara itu, Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Kardiologi RSBP Batam, Afdalun Hakim, SpJP, menyebut angka kejadian penyakit jantung bawaan di Indonesia berkisar 8–10 kasus per 1.000 kelahiran hidup, sementara jumlah dokter dan fasilitas penanganannya masih terbatas.
“Kondisi ini membuat penanganan penyakit jantung bawaan turut dibantu oleh berbagai lembaga dan yayasan sosial. Karena itu, penguatan layanan PJB di rumah sakit daerah menjadi sangat penting,” katanya.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fellowship Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan, dr. Priyandini Wulandari, menjelaskan salah satu pasien dewasa sebelumnya tidak memiliki keluhan dan baru terdeteksi setelah pemeriksaan rontgen saat medical check-up menunjukkan pembesaran jantung.
“Pasien tersebut diketahui telah hidup dengan penyakit jantung bawaan selama 22 tahun tanpa terdiagnosis. Kami melakukan tindakan penutupan patent ductus arteriosus menggunakan metode kateterisasi tanpa operasi. Alhamdulillah, tindakan berjalan lancar dan pasien sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya.
Ia menegaskan, RSBP Batam kini telah siap melayani tindakan intervensi penyakit jantung bawaan mulai dari usia neonatus hingga dewasa.
Baca Juga: Olahraga Ringan di Rumah, Cara Mudah Terapkan Hidup Sehat
Salah satu pasien, Nurdiana, mengaku bersyukur dapat memperoleh penanganan di Batam dengan jaminan BPJS Kesehatan.
“Alhamdulillah bisa ditangani di RSBP Batam. Semoga teman-teman yang punya penyakit sama tidak putus asa dan bisa berobat di sini,” ujarnya.
Selain pelayanan medis, kegiatan ini juga menjadi sarana alih pengetahuan bagi dokter dan tenaga kesehatan internal RSBP Batam agar layanan penyakit jantung bawaan dapat dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan. Ke depan, RSBP Batam diharapkan menjadi rumah sakit rujukan regional penanganan penyakit jantung bawaan di Kepulauan Riau. (*)
