Selasa, 27 Januari 2026

4 Sehat 5 Sempurna Sudah Tak Relevan, Ini Cara Penuhi Gizi Seimbang di Rumah

Berita Terkait

Ilustrasi makanan sehat. (ANTARA/Pexels)

batampos – Pemenuhan gizi seimbang masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan persoalan gizi masyarakat bukan hanya stunting, tetapi juga berat badan kurang, gizi kurang, hingga gizi lebih, dengan kondisi yang berbeda-beda di setiap provinsi.

Meski hasil SSGI 2024 menunjukkan prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen atau setara dengan 4.482.340 balita yang menurun 1,7 persen dibandingkan tahun 2023, masih banyak PR yang harus dikerjakan.

Kemenkes telah menargetkan penurunan stunting pada 2025 menjadi 18,8 persen yang membutuhkan upaya lebih keras dan kolaborasi lebih erat, terutama di enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar. Yakni Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).

Tak hanya itu, dalam SSGI 2024 juga menunjukkan bahwa wilayah Indonesia timur memiliki prevalensi tertinggi untuk gabungan stunting, gizi kurang, dan berat badan kurang.

Sementara Indonesia bagian tengah hingga timur terlihat banyak wilayah dengan prevalensi tinggi sejak usia anak 12 bulan ke atas. Kondisi ini menandakan bahwa intervensi pemenuhan gizi tidak cukup hanya dilakukan saat kehamilan, tetapi harus berlanjut setelah anak lahir.

Beberapa faktor yang tercatat dalam data SSGI dan menjadi perhatian Kementerian Kesehatan antara lain cakupan pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet tambah darah, pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI, imunisasi, serta prevalensi diare.

Cara Memenuhi Gizi Seimbang di Rumah

Seiring masih tingginya masalah gizi, pendekatan lama ‘4 Sehat 5 Sempurna’ dinilai sudah tidak lagi relevan. Dokter Spesialis Konsultasi Gizi Klinik, dr. Jovita Amelia, MSc, Sp.GK, menjelaskan bahwa saat ini masyarakat dianjurkan menerapkan konsep gizi seimbang sesuai pedoman piring sehat.

“Gizi seimbang sesuai piring sehat, di mana 1/4 karbohidrat kompleks, 1/2 sayur dan buah, 1/4 protein. Untuk anak komposisinya sama seperti dewasa, disesuaikan saja dengan jumlah kebutuhan kalorinya,” jelas dr. Jovita kepada JawaPos.com, dikutip Selasa (27/1).

Ia menjelaskan, konsep 4 Sehat 5 Sempurna menekankan makanan pokok, lauk, sayur, dan buah, dengan susu sebagai penyempurna. Namun dalam pedoman gizi seimbang, susu tidak lagi diposisikan sebagai penyempurna, melainkan asupannya dibatasi sesuai kebutuhan.

Selain komposisi makanan, dr. Jovita menekankan pentingnya variasi dan pola hidup sehat. Sayur dan buah dianjurkan beraneka warna untuk memastikan kecukupan vitamin dan mineral.

Adapun penggunaan minyak sehat perlu dibatasi, asupan cairan harus cukup, dan aktivitas fisik tetap dilakukan secara rutin.

Tantangan Edukasi Gizi

Di akhir, dr. Jovita menyoroti masalah umum dalam pemenuhan gizi di Indonesia yang masih kerap ditemui. Menurutnya, salah satu tantangan utama adalah kurangnya informasi gizi yang benar di masyarakat.

“Mungkin karena kurangnya informasi gizi yang benar. Justru yang banyak beredar itu informasi-informasi gizi dari orang-orang yang tidak memiliki kompetensi di bidangnya,” ujarnya.

Kondisi ini membuat edukasi gizi berbasis data dan tenaga ahli menjadi semakin penting, agar upaya pencegahan stunting dan masalah gizi lainnya bisa dilakukan sejak dari rumah, dengan pola makan seimbang yang tepat.(*)

ReporterJPGroup

Update