
batampos — Di tengah pertumbuhan pesat industri food and beverage (F&B) di Kota Batam, Tarata Patisserie memilih pendekatan berbeda dengan mengangkat budaya Nusantara sebagai identitas utama produknya. Konsep tersebut diterapkan sebagai strategi diferensiasi di tengah ketatnya persaingan pasar kuliner.
Pemilik Tarata Patisserie, Fariano Ong, mengatakan unsur budaya lokal menjadi fondasi dalam pengembangan merek, termasuk pada desain kemasan. Beragam ikon Indonesia ditampilkan, mulai dari Candi Borobudur, tarian Pendet, Raja Ampat, motif batik, komodo, Jembatan Barelang, hingga gonggong yang merupakan kuliner khas Kepulauan Riau.
“Konsep yang kami bangun menggabungkan seni dan budaya lokal. Tujuannya agar produk tidak hanya menjadi sajian kuliner, tetapi juga membawa pesan tentang kekayaan budaya Nusantara,” ujar Fariano, Jumat (16/1).
Baca Juga: Swiss-Belhotel Harbour Bay Hadirkan Sensasi Kuliner Angkringan di Area Teras Hotel
Menurutnya, pendekatan tersebut juga disiapkan sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha ke pasar yang lebih luas. Selain memperkuat pangsa pasar di Batam, Tarata Patisserie menargetkan ekspansi ke Tanjung Uban serta sejumlah kota di Tiongkok, seperti Fujian dan Quanzhou.
Dari sisi produk, Tarata Patisserie menawarkan beragam menu, mulai dari sajian bernuansa Nusantara, menu sarapan, hingga hidangan bergaya Barat yang dipadukan dengan roti dan pastry. Untuk minuman, tersedia kopi serta racikan minuman berbasis rempah-rempah khas Nusantara.
Fariano menjelaskan, penggunaan rempah lokal menjadi salah satu ciri yang ingin diperkenalkan kepada konsumen. “Rempah-rempah Nusantara kami olah dengan cara tradisional, kemudian dikemas dengan pendekatan yang lebih modern,” katanya.
Selain menu utama, Tarata juga memproduksi aneka produk bakery, seperti roti, pastry, cake, hingga kue lapis tradisional. Menjelang perayaan Imlek, permintaan terhadap kue lapis dan paket bingkisan tercatat meningkat.
Dari segi fasilitas, bangunan Tarata Patisserie dirancang dengan fungsi berbeda di setiap lantai. Lantai pertama mengusung konsep ruang bersantap yang lebih formal, sementara lantai dua disiapkan sebagai area kasual untuk pertemuan informal maupun aktivitas bekerja.
Baca Juga: Hari Keseimbangan Naga Air, 6 Shio Ini Diprediksi Dapat Hoki Tak Terduga
“Tempat ini juga sering dimanfaatkan untuk kegiatan kantor dan acara keluarga, dengan konsep ruang serta sajian yang dapat disesuaikan,” tambah Fariano.
Terkait harga, ia menegaskan produk Tarata Patisserie dipasarkan dengan kisaran harga yang menyesuaikan kafe pada umumnya di Batam. Untuk promosi dan komunikasi dengan konsumen, pihaknya memaksimalkan pemanfaatan platform digital dan media sosial.
Ke depan, Tarata Patisserie berharap pendekatan berbasis budaya lokal dapat menjadi nilai tambah dalam menghadapi persaingan industri F&B, sekaligus memperkenalkan identitas kuliner Nusantara ke pasar yang lebih luas. (*)
