
batampos – Demensia tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Seorang pria asal Inggris, Andre Yarham, meninggal dunia pada usia 24 tahun akibat demensia agresif yang berkembang sangat cepat.
Kasus Andre disebut sebagai salah satu demensia dini paling langka di dunia. Ia juga dipandang sebagai salah satu pasien demensia termuda yang pernah tercatat di Inggris, sehingga menarik perhatian komunitas medis internasional.
Gejala penyakit mulai muncul saat Andre berusia sekitar 22 tahun. Ibunya, Samantha Fairbairn, pertama kali menyadari adanya perubahan signifikan pada perilaku serta daya ingat putranya yang semakin memburuk.
Hasil pemeriksaan medis menunjukkan kondisi otak Andre mengalami penyusutan ekstrem. Struktur otaknya bahkan menyerupai otak orang berusia sekitar 70 tahun, meskipun usia biologisnya masih sangat muda.
Andre kemudian didiagnosis mengidap frontotemporal dementia (FTD), jenis demensia langka yang menyerang bagian otak yang mengatur perilaku, bahasa, dan fungsi eksekutif. Berbeda dengan Alzheimer yang lebih umum, FTD cenderung menunjukkan perubahan kepribadian dan perilaku sejak tahap awal penyakit.
Seiring perkembangan penyakit, kondisi Andre terus menurun. Menjelang akhir hayatnya, ia membutuhkan perawatan penuh, tidak lagi mampu berjalan tanpa bantuan, serta kehilangan kemampuan berbicara.
Andre meninggal dunia pada 27 Desember 2025 setelah mengalami komplikasi infeksi. Usai kepergiannya, keluarga memutuskan mendonasikan otak Andre untuk kepentingan penelitian medis.
Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat pemahaman ilmiah tentang demensia dini dan membantu keluarga lain yang menghadapi penyakit serupa.
Profesor James Rowe, konsultan di Cambridge yang memimpin penelitian FTD, menyampaikan apresiasi atas keputusan keluarga Andre. Menurutnya, donasi tersebut merupakan kontribusi penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
“Kisah putra saya bisa meningkatkan kesadaran bahwa demensia tidak hanya menyerang orang tua,” ujar Samantha Fairbairn, dikutip dari ITVX, Jumat (16/1).
Kasus Andre menyoroti tantangan besar dalam diagnosis demensia dini serta pentingnya penelitian lebih mendalam terkait faktor genetik dan mekanisme penyakit ini. (*)
