
batampos – Dalam hubungan pernikahan, setiap pasangan tentu menginginkan untuk merasa dicintai, dihargai, dan menjadi prioritas utama bagi pasangannya.
Namun, terkadang kenyataan tidak selalu sesuai harapan. Ada kalanya kamu mulai merasakan jarak, diabaikan, atau bahkan merasa seperti bukan bagian penting dalam hidup suami.
Tanda-tanda ini sering muncul secara halus, melalui kebiasaan sehari-hari yang mungkin terlihat sepele, tetapi jika dibiarkan, bisa menimbulkan rasa kecewa dan kesepian dalam hati.
Dilansir dari laman Global English Editing pada Kamis (15/1), berikut merupakan 8 pertanda suami tidak menjadikanmu sebagai prioritasnya.
1. Sering membatalkan rencana
Salah satu tanda paling nyata bahwa kamu mungkin bukan prioritas utama bagi suami adalah jika ia sering membatalkan rencana atau janji yang telah dibuat.
Dalam hubungan yang sehat, perhatian terhadap waktu bersama sangatlah penting, tidak hanya pada momen besar, tetapi juga pada kegiatan sehari-hari.
Jika kamu sering ditinggalkan menunggu atau rencana yang sudah disepakati sering dibatalkan, hal ini bisa menunjukkan bahwa kamu tidak terlalu diutamakan.
Namun, penting untuk diingat bahwa setiap orang memiliki kesibukan atau hari yang berat, sehingga pembatalan sesekali tidak selalu menjadi masalah.
Yang perlu diperhatikan adalah jika pola ini terus terjadi secara konsisten, karena itu menandakan kurangnya perhatian dan komitmen terhadap hubungan.
2. Mendapat kabar dari orang lain
Dalam hubungan yang harmonis, pasangan seharusnya saling berbagi kabar penting, baik itu kabar bahagia maupun kabar yang menantang.
Jika kamu sering mengetahui informasi penting tentang hidup suami dari teman, keluarga, atau orang lain, bukan dari suami sendiri, hal ini bisa menjadi pertanda bahwa kamu tidak menjadi pusat perhatian atau prioritas baginya.
Merasa diabaikan ketika hal besar terjadi dalam hidup pasangan bisa sangat menyakitkan dan menimbulkan rasa kecewa.
Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang terbuka, sehingga setiap kabar penting harus dibagikan langsung kepada pasangan.
3. Kamu selalu memulai segalanya
Dalam hubungan yang sehat, upaya untuk menjaga komunikasi, kedekatan, dan keharmonisan harus bersifat timbal balik.
Jika kamu selalu menjadi pihak yang memulai percakapan, merencanakan kegiatan, atau melakukan gestur romantis, hal ini bisa menunjukkan bahwa kamu berusaha lebih keras daripada suami.
Hubungan yang seimbang membutuhkan partisipasi aktif dari kedua belah pihak. Jika hanya satu pihak yang terus berinisiatif, maka ada kemungkinan besar bahwa prioritasmu dalam hidup pasangan menurun.
Rasa lelah dan kecewa sering kali muncul ketika usahamu tidak mendapat tanggapan yang seimbang dari pasangan.
4. Perasaan tak terlihat
Merasa dilihat, didengar, dan dihargai adalah kebutuhan dasar dalam setiap hubungan.
Jika suamimu sering mengabaikan pendapat, cerita, atau perasaanmu, hal ini dapat membuatmu merasa tidak penting.
Perasaan tak terlihat ini bisa muncul ketika kamu merasa selalu harus mengingatkan, menjelaskan, atau mencari perhatian, namun tanggapan yang diterima sangat sedikit atau tidak ada.
Dalam hubungan yang sehat, pasangan seharusnya hadir sepenuhnya saat kamu berbagi sesuatu, baik itu tentang harapan, impian, maupun masalah yang dihadapi.
Mengabaikan kebutuhan emosional pasangan adalah tanda jelas bahwa prioritasnya bukan padamu.
5. Ketidakhadiran di saat-saat penting
Momen sulit dalam hidup, seperti kehilangan orang tercinta, menghadapi kegagalan, atau masalah berat lainnya, adalah saat di mana dukungan pasangan sangat dibutuhkan.
Jika suamimu tidak hadir secara emosional atau bahkan secara fisik saat kamu menghadapi kesulitan, hal ini bisa menjadi pertanda bahwa prioritasnya berada pada hal lain.
Kehadiran pasangan pada saat krisis atau masa sulit merupakan salah satu indikator utama seberapa besar kamu menjadi prioritas dalam hidupnya.
Ketidakhadiran yang konsisten di saat-saat penting ini bisa menimbulkan rasa kesepian, kecewa, dan meragukan komitmen pasangan terhadap hubungan.
6. Kurangnya keterlibatan dalam keputusan bersama
Keputusan dalam hubungan, sekecil apapun itu, seharusnya melibatkan kedua belah pihak.
Mulai dari hal sederhana seperti memilih menu makan, warna cat rumah, hingga keputusan besar seperti merencanakan masa depan atau investasi, keterlibatan pasangan sangatlah penting.
Jika suami tampak acuh atau selalu membiarkanmu mengambil semua keputusan, hal ini bisa menjadi indikasi bahwa ia kurang memperhatikan kehidupan dan masa depan bersama.
Kurangnya partisipasi dalam keputusan ini menunjukkan bahwa kamu tidak menjadi pusat perhatian atau prioritas dalam hidupnya, sehingga hubungan terasa sepihak dan tidak seimbang.
7. Kebutuhanmu sering tidak terpenuhi
Kebutuhan, keinginan, dan harapan setiap pasangan seharusnya dihargai dan dipenuhi dalam hubungan yang sehat.
Jika suami sering mengabaikan kebutuhanmu, atau tidak memperhatikan aspirasimu, ini merupakan tanda kuat bahwa kamu bukan prioritas utamanya.
Hubungan yang sehat membangun rasa saling menghargai, memahami, dan memenuhi kebutuhan masing-masing.
Jika hal ini tidak terjadi, penting untuk membuka komunikasi yang jujur, agar pasangan mengetahui pentingnya kebutuhanmu.
Kamu berhak menjadi prioritas dalam hubungan, dan hal itu tidak boleh dikompromikan.
8. Investasi emosional yang terbatas
Hubungan yang kuat dan sehat dibangun dari investasi emosional kedua belah pihak. Artinya, pasangan hadir secara mental dan emosional, mendengarkan dengan penuh perhatian, serta menunjukkan kepedulian terhadap perasaan dan pengalaman satu sama lain.
Jika suamimu tampak tidak peduli dengan perasaanmu, tidak tertarik pada cerita sehari-harimu, atau jarang menunjukkan dukungan emosional, hal ini bisa menjadi tanda bahwa ia tidak menempatkanmu sebagai prioritas.
Kurangnya perhatian emosional ini bisa membuatmu merasa terasing, tidak dihargai, dan jauh dari pasangan secara psikologis, yang lama-kelamaan akan merusak kedekatan hubungan. (*)
