
batampos – Menjadi orang tua yang sabar bukan berarti tidak pernah marah. Sabar justru dimaknai sebagai kemampuan orang tua untuk tetap kokoh secara emosional saat menghadapi perilaku anak yang menantang tanpa kehilangan kendali maupun arah dalam bersikap.
Konselor Pengasuhan dan Keluarga, Ellen Kristi, menekankan pentingnya peran orang tua sebagai “batu karang” yang stabil secara emosional bagi anak.
“Kita sebagai orang tua perlu menjadi batu karang yang kokoh secara emosional untuk anak-anak. Tanpa orang tua yang emosionalnya stabil dan kokoh, akan lebih sulit bagi anak untuk memilih perilaku yang produktif dalam kehidupannya,” ujarnya, dikutip dari Jawa Pos, Senin (5/1).
Menurut Ellen, makna sabar sering kali disalahartikan. Sabar bukan sekadar tampak tenang di luar, berbicara dengan nada rendah, atau tidak melakukan apa-apa saat anak berperilaku negatif.
“Sabar itu bukan sekadar tidak menaikkan nada, tidak membentak, atau terlihat diam. Sabar perlu dibedakan dengan sekadar tampak luar,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa sabar tidak sama dengan takut berkonflik. Ada orang tua yang terlihat sabar, padahal sebenarnya sedang menahan kemarahan dan rasa kesal di dalam hati.
“Kalau di dalam hatinya penuh kemarahan lalu ditekan, pada satu titik ketika energinya habis, orang tua ini bisa meledak,” tutur Ellen.
Selain itu, Ellen menegaskan sabar juga tidak identik dengan permisif. Membiarkan anak melakukan apa pun tanpa batasan justru tidak membantu anak mengenali batas perilaku yang sehat.
“Kalau anak memukul lalu orang tua hanya bilang tidak suka tapi tidak melakukan apa-apa, itu bukan sabar. Anak jadi tidak tahu boundaries-nya di mana,” jelasnya.
Ia juga menyoroti sikap diam karena bingung atau tidak peduli sebagai bentuk yang keliru dari kesabaran.
“Diam karena bingung bukan berarti sabar. Begitu juga cuek atau tidak berempati ketika anak sedang emosional, itu tidak membantu tumbuh kembang anak,” ucapnya.
Ellen menegaskan bahwa sabar juga bukan pasrah atau tidak berdaya menghadapi ledakan emosi anak. Menurutnya, kesabaran justru membutuhkan kehadiran dan kepemimpinan emosional dari orang tua.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa sabar bukan berarti tidak memiliki energi marah.
“Sabar itu bukan tidak pernah marah. Justru kita bisa merasakan ujung kemarahan, tapi mampu meregulasi emosi itu,” kata Ellen.
Dengan regulasi emosi yang baik, orang tua dapat melihat masalah sebagai upaya membangun kembali koneksi dan kedekatan dengan anak.
“Yang dibutuhkan bukan menyalahkan anak atau diri sendiri, tapi bagaimana kita hadir dengan energi kepemimpinan, sehingga anak merasa orang tuanya adalah pemimpin yang aman dan bisa diandalkan,” pungkasnya. (*)
