
batampos – Industri gadget global tengah menghadapi tekanan serius akibat krisis pasokan chip memori atau RAM. Kekurangan ini dipicu lonjakan permintaan dari pusat data kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), yang mulai berdampak langsung pada pasar smartphone dan perangkat elektronik konsumen lainnya.
Dampak krisis RAM tersebut diperkirakan semakin terasa pada 2026, dengan potensi kenaikan harga jual smartphone secara signifikan.
“Permintaan memori DRAM dari perusahaan teknologi besar untuk kebutuhan AI telah menyedot sebagian besar pasokan chip memori tingkat tinggi,” tulis laporan analisis International Data Corporation (IDC) yang dikutip dari Business Insider, Jumat (2/1).
Kondisi tersebut membuat produsen gadget konsumen kesulitan memperoleh komponen penting. Ketersediaan memori yang semakin terbatas mendorong lonjakan harga komponen dalam waktu singkat.
Sejumlah produsen diperkirakan menghadapi tekanan margin keuntungan, mengingat biaya memori kini menyumbang hingga 20 persen dari total biaya produksi sebuah smartphone. Untuk menutup kenaikan tersebut, perusahaan berpotensi meneruskannya kepada konsumen.
“Harga jual rata-rata smartphone global berpeluang naik sekitar 6,9 persen pada 2026 akibat kenaikan biaya memori,” tulis riset Counterpoint Research yang dikutip dari Citi News Room.
Proyeksi riset tersebut juga menunjukkan pengiriman smartphone global berpotensi turun sekitar 2,1 persen. Kenaikan harga dinilai membuat sebagian konsumen menunda pembelian perangkat baru.
Biaya produksi perangkat elektronik dilaporkan telah meningkat sekitar 20 hingga 30 persen. Ponsel kelas menengah dan premium mengalami kenaikan biaya produksi di kisaran 10 hingga 15 persen.
Tekanan serupa juga diperkirakan menghantam industri PC global. Keterbatasan pasokan memori diproyeksikan membuat pasar PC menyusut hingga 9 persen, sekaligus memicu kenaikan harga laptop dan perangkat elektronik lain pada 2026.
Harga RAM sendiri dilaporkan telah melonjak hingga dua digit persentase dan diprediksi terus meningkat seiring tingginya permintaan dari sektor AI.
Beberapa produsen smartphone besar, termasuk Xiaomi, telah memberi sinyal bahwa harga perangkat mereka kemungkinan ikut naik.
Industri gadget global pun diperkirakan menghadapi tantangan ganda berupa penurunan pengiriman perangkat, keterbatasan spesifikasi, serta tekanan margin produksi. (*)
