Sabtu, 3 Januari 2026

Orang Baik Hati tetapi Tidak Memiliki Banyak Teman, Ini 8 Pola Perilakunya Menurut Psikologi

Berita Terkait

Ilustrasi seseorang yang memiliki kepribadian mudah disukai tapi tidak banyak teman. (Freepik)

batampos – Di tengah dunia yang semakin bising oleh validasi sosial, jumlah pertemanan sering kali dijadikan tolok ukur kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Media sosial memperkuat ilusi bahwa semakin banyak teman, semakin baik pula kualitas hidup. Namun psikologi memandang realitas ini dengan cara yang jauh lebih dalam dan manusiawi.

Faktanya, tidak sedikit orang yang tulus, empatik, dan berhati baik justru hidup dengan lingkar pertemanan yang kecil. Mereka bukan antisosial, bukan pula tidak disukai. Sebaliknya, mereka sering kali memiliki kualitas emosional yang tinggi—namun kualitas inilah yang membuat mereka lebih selektif, lebih berhati-hati, dan lebih nyaman dengan keheningan daripada keramaian palsu.

Dilansir dari Geediting, menurut psikologi, orang-orang baik hati yang tidak memiliki banyak teman biasanya menunjukkan pola perilaku tertentu. Berikut delapan di antaranya.

1. Lebih Mengutamakan Kualitas daripada Kuantitas Hubungan

Orang yang benar-benar baik hati tidak tertarik pada pertemanan yang dangkal. Mereka tidak merasa perlu dikelilingi banyak orang hanya demi terlihat “punya teman”. Dalam psikologi relasi, ini disebut sebagai preference for deep connection—kecenderungan untuk membangun ikatan emosional yang bermakna daripada hubungan sosial yang superfisial.

Akibatnya, lingkar sosial mereka kecil, tetapi ikatannya kuat.

2. Sangat Empatik hingga Mudah Lelah Secara Emosional

Empati adalah kekuatan sekaligus beban. Orang baik hati sering kali menyerap emosi orang lain tanpa disadari. Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ikut merasakan kesedihan, kecemasan, bahkan konflik orang lain.

Dalam jangka panjang, ini membuat mereka cepat mengalami emotional fatigue. Karena itu, mereka membatasi interaksi sosial bukan karena tidak peduli, melainkan karena ingin melindungi kesehatan mentalnya sendiri.

3. Tidak Pandai Bersikap Palsu demi Diterima

Psikologi sosial menunjukkan bahwa banyak hubungan terbentuk dari kompromi kepribadian—sedikit berpura-pura agar cocok dengan kelompok. Orang yang tulus dan baik hati sering kali tidak mampu melakukan ini.

Mereka sulit tertawa pada hal yang tidak mereka anggap lucu, sulit ikut gosip, dan tidak nyaman dengan kepalsuan. Akibatnya, mereka jarang “klik” dengan banyak orang, meski sebenarnya disukai.

4. Lebih Nyaman Menjadi Pendengar daripada Pusat Perhatian

Orang baik hati cenderung menjadi pendengar yang hebat. Mereka tidak haus perhatian, tidak merasa perlu mendominasi percakapan, dan jarang memaksakan cerita tentang dirinya.

Ironisnya, dalam dinamika sosial modern, sifat ini sering membuat mereka “terlihat” lebih sedikit. Mereka ada, tetapi tidak mencolok. Akhirnya, hanya sedikit orang yang benar-benar mengenal mereka secara mendalam.

5. Sulit Mengatakan “Tidak”, lalu Menarik Diri

Banyak orang baik hati memiliki kecenderungan people-pleasing. Mereka ingin membantu, tidak enak menolak, dan sering mengorbankan diri sendiri.

Namun ketika batas pribadi terlalu sering dilanggar, respons psikologis yang muncul adalah menarik diri. Mereka memilih menyendiri sebagai cara paling aman untuk menghindari konflik batin.

6. Sangat Sensitif terhadap Energi Negatif

Dalam psikologi kepribadian, sensitivitas tinggi (high sensitivity) sering berkaitan dengan kedalaman emosi dan moralitas. Orang seperti ini mudah merasakan ketulusan—dan sebaliknya, mudah pula merasakan kepalsuan, kecemburuan, atau niat buruk.

Karena tidak semua orang membawa energi yang sehat, mereka secara alami membatasi pergaulan, bahkan tanpa sadar.

7. Lebih Suka Hubungan yang Bertumbuh, Bukan Sekadar Hiburan

Bagi mereka, teman bukan hanya untuk tertawa atau menghabiskan waktu, tetapi untuk saling bertumbuh. Mereka menghargai percakapan bermakna, refleksi diri, dan nilai hidup.

Sayangnya, tidak semua orang siap untuk kedalaman seperti ini. Akibatnya, lingkar pertemanan mereka menyempit secara alami.

8. Tidak Mengukur Nilai Diri dari Popularitas

Psikologi positif menekankan pentingnya internal validation. Orang baik hati biasanya sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Mereka tidak membutuhkan banyak teman untuk merasa berharga.

Karena tidak mengejar pengakuan sosial, mereka juga tidak berusaha memperluas jaringan pertemanan secara agresif. (*)

ReporterJPGroup

Update