Selasa, 20 Januari 2026

Berpura-Pura Semuanya Baik-Baik Saja, Ini Sebenarnya Pergumulan Batin yang Kerap Terjadi

Berita Terkait

Ilustrasi (aiins.us)

batampos – Di permukaan, mereka tampak baik-baik saja. Senyumnya mudah muncul, jawabannya selalu singkat dan aman: “Aku nggak apa-apa.” Mereka tetap bekerja, tetap bercanda, tetap hadir dalam pergaulan.

Namun psikologi menunjukkan bahwa di balik topeng “semuanya baik-baik saja”, sering kali tersembunyi pergumulan batin yang sunyi dan melelahkan.

Berpura-pura kuat bukanlah tanda kelemahan, melainkan strategi bertahan. Sayangnya, strategi ini sering dibayar mahal oleh kesehatan mental.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (30/12), terdapat tujuh pergumulan batin yang kerap dialami oleh orang-orang yang terlihat paling tegar—namun sesungguhnya sedang berjuang sendirian.

1. Kelelahan Emosional yang Tak Pernah Benar-Benar Pulih

Menurut psikologi, menekan emosi secara terus-menerus membutuhkan energi mental yang besar.

Orang yang selalu “baik-baik saja” sering mengalami emotional exhaustion—kelelahan batin yang tidak hilang meski sudah tidur atau libur.

Mereka mungkin tidak bisa menjelaskan kenapa selalu lelah, padahal tidak melakukan aktivitas berat.

Sebab lelahnya bukan di tubuh, melainkan di jiwa. Setiap hari mereka menahan sedih, kecewa, atau marah agar tidak “merepotkan” orang lain.

2. Ketakutan Menjadi Beban bagi Orang Lain

Salah satu akar dari kepura-puraan ini adalah keyakinan batin: “Kalau aku jujur, aku akan merepotkan.” Psikologi menyebut ini sebagai pola self-silencing, yaitu kebiasaan membungkam kebutuhan diri demi menjaga hubungan sosial.

Mereka memilih diam bukan karena tidak butuh bantuan, tetapi karena takut ditolak, dihakimi, atau dianggap lemah. Ironisnya, semakin mereka diam, semakin berat beban yang mereka pikul sendiri.

3. Perasaan Kesepian Meski Dikelilingi Banyak Orang

Kesepian tidak selalu berarti sendirian. Banyak orang yang berpura-pura baik-baik saja justru merasa sangat kesepian di tengah keramaian. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak secara emosional.

Karena tidak pernah benar-benar jujur tentang perasaan mereka, hubungan yang terjalin pun terasa dangkal. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai emotional loneliness—kesepian yang muncul karena tidak adanya koneksi emosional yang autentik.

4. Konflik Batin antara Diri Asli dan Diri yang Ditampilkan

Berpura-pura kuat menciptakan jarak antara siapa diri mereka sebenarnya dan siapa yang mereka tampilkan. Dalam jangka panjang, hal ini memicu konflik identitas dan kebingungan batin.

Mereka mulai bertanya dalam diam: “Yang mana diriku yang sebenarnya?” Psikologi menunjukkan bahwa ketidaksesuaian ini dapat meningkatkan kecemasan dan menurunkan harga diri, karena seseorang merasa tidak diterima apa adanya.

5. Kecenderungan Menyalahkan Diri Sendiri Secara Berlebihan

Alih-alih marah pada situasi atau orang lain, mereka justru sering menyalahkan diri sendiri. “Aku terlalu sensitif.” “Aku seharusnya lebih kuat.” Dialog batin semacam ini sangat umum.

Psikologi mengenalnya sebagai internalized blame. Ketika emosi negatif tidak diekspresikan keluar, ia berbalik ke dalam dan menjadi kritik diri yang keras, bahkan kejam.

6. Sulit Meminta dan Menerima Bantuan

Paradoksnya, orang yang paling membutuhkan bantuan sering kali paling sulit memintanya. Mereka sudah terbiasa menjadi “yang kuat”, “yang bisa diandalkan”, atau “yang selalu mengerti”.

Meminta bantuan terasa seperti kegagalan pribadi. Padahal menurut psikologi kesehatan mental, kemampuan meminta dan menerima bantuan justru merupakan tanda kedewasaan emosional dan resiliensi.

7. Ledakan Emosi yang Datang Tiba-Tiba

Emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu waktu. Banyak orang yang berpura-pura baik-baik saja mengalami ledakan emosi mendadak: menangis tanpa sebab jelas, marah berlebihan, atau merasa hampa secara tiba-tiba.

Psikologi menjelaskan bahwa ini adalah hasil dari akumulasi emosi yang tidak pernah diproses. Tubuh dan pikiran akhirnya “memaksa” seseorang untuk berhenti dan memperhatikan luka batinnya.

Kesimpulan: Di Balik Senyum, Ada Jiwa yang Perlu Didengar

Berpura-pura semuanya baik-baik saja sering kali bukan kebohongan, melainkan jeritan yang tidak terdengar.

Tujuh pergumulan batin ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan tentang selalu terlihat tegar, melainkan tentang keberanian untuk jujur—setidaknya pada diri sendiri.

Psikologi mengajarkan satu hal penting: emosi yang diakui akan melemahkan cengkeramannya, sementara emosi yang ditekan justru tumbuh diam-diam.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda selalu berkata “aku baik-baik saja”, mungkin yang paling mereka butuhkan bukan nasihat, melainkan ruang aman untuk akhirnya berkata, “sebenarnya aku sedang tidak baik.” (*)

ReporterJPGroup

Update