Minggu, 25 Januari 2026

Terlalu Lama Sendirian, Ini Dampaknya pada Tubuh dan Pikiran

Berita Terkait

Ilustrasi orang yang sedang menyendiri. (Pexels)

batampos – Banyak orang membutuhkan waktu menyendiri sebagai cara mengisi ulang energi setelah bersosialisasi. Terutama bagi introvert.

Dalam kondisi tertentu, mereka tetap bisa bersosialisasi secara aktif dan menikmati kebersamaan, tetapi tetap memerlukan ruang pribadi di luar waktu tidur agar dapat kembali merasa seimbang.

Perlu dipahami bahwa ada perbedaan antara kepribadian introvert dan kebiasaan menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian. Sebab, kebutuhan sosial setiap individu berbeda.

Orang dengan kecenderungan ekstrovert biasanya memerlukan lebih banyak interaksi, sementara introvert merasa lebih pulih setelah memiliki waktu sendiri. Tidak ada yang benar atau salah semuanya bergantung pada kebutuhan masing-masing.

Meski begitu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa terlalu lama sendirian dapat berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan emosional, baik bagi introvert maupun ekstrovert.

Dilansir dari Your Tango, berikut tujuh hal yang kerap terjadi ketika seseorang menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian:

1. Kebiasaan Berbicara dengan Diri Sendiri

Saat tidak ada orang lain untuk diajak berbicara, manusia cenderung tetap mengekspresikan pikirannya dengan berbicara sendiri. Hal ini tergolong wajar karena manusia pada dasarnya makhluk sosial yang terbiasa berkomunikasi.

Namun, kebiasaan ini bisa menjadi sinyal masalah ketika seseorang mulai menggantungkan respons emosional pada objek yang tidak bisa membalas interaksi.

2. Pakaian Menjadi Hal Sekunder

Menghabiskan banyak waktu sendirian di rumah sering membuat standar berpakaian menjadi lebih longgar. Kenyamanan menjadi prioritas utama, hingga berpakaian rapi terasa tidak lagi penting.

Akibatnya, aktivitas sederhana seperti bersiap keluar rumah bisa terasa merepotkan dan membutuhkan usaha ekstra.

3. Pola Makan Tidak Teratur

Terlalu lama sendirian juga dapat mengganggu pola makan. Alih-alih makan teratur, seseorang cenderung ngemil sepanjang hari.

Beberapa penelitian menyebut pola makan kecil namun sering bisa menyehatkan, tetapi kebiasaan ini berisiko jika didominasi makanan tidak bergizi.

4. Fungsi Otak Bisa Mengalami Peningkatan

Di sisi positif, waktu menyendiri yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat psikologis. Menurut sejumlah kajian, menyendiri secara sadar dan terkontrol dapat meningkatkan fokus, kreativitas, dan kualitas berpikir.

Jeda dari interaksi sosial dan paparan digital memungkinkan otak memproses informasi dengan lebih optimal.

5. Gejala Penyakit Terasa Lebih Berat

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa kesepian cenderung melaporkan gejala penyakit yang lebih parah saat sakit, seperti flu atau infeksi pernapasan.

Hal ini menegaskan adanya hubungan erat antara kondisi emosional dan daya tahan tubuh.

6. Kualitas Tidur Menurun

Psikolog menemukan bahwa individu yang menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian cenderung lebih sering terbangun di malam hari dan mengalami tidur yang kurang berkualitas.

Padahal, tidur merupakan faktor penting bagi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

7. Risiko Kematian Dapat Meningkat

Fakta paling mengkhawatirkan datang dari studi jangka panjang yang menunjukkan bahwa kesepian berkepanjangan berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian, terutama pada kelompok usia lanjut.

Dalam penelitian terhadap ribuan responden berusia di atas 50 tahun, mereka yang merasa paling kesepian memiliki risiko meninggal hampir dua kali lipat dibandingkan mereka yang merasa lebih terhubung secara sosial.

Waktu sendiri bukanlah sesuatu yang negatif. Bagi banyak orang, menyendiri justru bersifat menenangkan dan memulihkan energi. Namun ketika berubah menjadi isolasi yang berkepanjangan, dampaknya bisa merugikan kesehatan.

Menjaga koneksi sosial baik melalui percakapan langsung, komunikasi daring, maupun interaksi sederhana sehari-hari dapat membantu menciptakan keseimbangan.

Pada akhirnya, setiap individu memiliki peran penting dalam menentukan apakah waktu sendirian masih menyehatkan atau justru mulai berdampak negatif. (*)

ReporterJPGroup

Update