Selasa, 20 Januari 2026

Ciptakan Inovasi Teknologi hingga Solusi Berbasis Alam, Ini Cara 5 Negara di Dunia Tangani Banjir

Berita Terkait

Batampos –  Sejumlah wilayah di tiga provinsi di Sumatera, Indonesia, menghadapi bencana banjir dan tanah longsor sekitar dua minggu lalu. Bukan hanya kerusakan alam  dan hilangnya beragam satwa liar, serta kehilangan materi, tapi sekitar 800 nyawa juga hilang dalam peristiwa memilukan tersebiut.

ILUSTRASI tangki penahan banjir di Singapura. F Govt Singapore

Banjir memang menjadi ancaman yang semakin sering terjadi di berbagai negara, khususnya di berbagai negara Asia Tenggara, akhir-akhir ini. Perubahan iklim, cuaca ekstrem, deforestasi, hingga alih fungsi hutan menjadi perkebunan sawit secara masif menjadi penyebabnya.

Namun sejumlah negara di dunia berhasil menunjukkan cara mitigasi banjir yang efektif, cerdas, dan berkelanjutan. Negara-negara maju ini, memiliki sistem penanggulangan banjir terbaik yang diakui dunia. Apa saja negara tersebut?

1. Jepang Bangun Pintu Air

Jepang adalah salah satu negara dengan teknologi pengendalian banjir paling maju. Salah satu inovasinya adalah G-Cans Project atau Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel, atau jaringan terowongan bawah tanah di Saitama.

Tak hanya itu, melansir Ministry of Land, Infrastructure, Transport and Tourism Japan terkait G-Cans Project, Jepang juga menerapkan strategi, seperti:

BACA JUGA:
Starlink Gratiskan Internet untuk Wilayah Terdampak Bencana di Sumatra

– Membangun pintu air underground flood tunnels untuk menampung luapan sungai.

– Sistem peringatan dini menggunakan sensor, radar cuaca, dan AI.

– Infrastruktur tahan bencana seperti bendungan multiguna dan tanggul kokoh.

– Edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana sejak sekolah.

Hasilnya, Jepang mampu mengatasi dengan sangat cepat, ketika banjir terjadi.

2. Kanada Bangun Bendungan Tanpa Merusak Alam

Kanada menghadapi risiko banjir akibat salju mencair serta badai ekstrem dengan membangun bendungan di Sungai Humber, Ontario.

Lewat pembangunan bendungan ini, negara ini juga memilih pendekatan kombinasi teknologi dan alam dengan:

  • Membangunstormwater ponds (kolam penampungan air hujan).
  • Rehabilitasi rawa, hutan, dan lahan basah untuk memperlambat aliran air.
  • ProgramFlood Damage Reduction Program berbasis pemetaan risiko banjir.
  • Standar bangunan yang diwajibkan tahan terhadap banjir ekstrem.

Kanada menjadi rujukan dunia dalam pemanfaatan infrastruktur hijau untuk mengendalikan banjir tanpa merusak ekosistem.

3. Belanda Bangun Dam

Belanda merupakan negara, dimana sekitar 60 persen wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Namun negara ini justru menjadi contoh terbaik dalam pengendalian banjir.

Mengapa? Karena mereka membangun sejumlah bendungan atau Oosterscheldekering atau dikenal juga dam. Bendungan terbesar di Belanda adalah  Delta Works, dimana proyek ini berfungsi mengendalikan banjir terbesar berupa bendungan raksasa, pintu air, dan sistem penghalang laut.

Tak hanya itu, negara ini juga memiliki konsep Room for the River yang memberi ruang bagi sungai untuk meluap secara alami. Sistem ini dikelola oleh water boards yang sudah ada sejak abad ke-13. Dimana mereka juga mereklamasi tanah dengan teknologi tanggul modern.

4. Swiss Lakukan Sistem Peringatan Cepat Berbasis Sensor Hidrologi

Swiss rentan terhadap banjir akibat gletser mencair dan curah hujan ekstrem di kawasan pegunungan. Maka negara ini pun membuat dan memaksimalkan Early Warning Systems berbasis data satelit dan sensor hidrologi.

Kebijakan tata ruang yang sangat ketat, dengan melarang pembangunan di zona risiko atau merusak bahkan menebang pohon di wilayah pegunungan dengan pendekatan presisi membuat negara ini mampu mencegah banjir meski memiliki banyak mata air di berbagai puncak dan lembah pegunungan.

5. Singapura Bangun Sistem Drainase PUB

Kondisi cuaca yang tidak berbeda jauh dengan Indonesia, Negara tetangga Singapura mengembangkan sistem drainase modern yang disebut Public Utilities Board (PUB).

Negara ini juga memiliki strategi:

  • Deep Tunnel Sewerage System(DTSS) untuk menyalurkan dan mengolah air secara efisien.
  • PembangunanABC Waters Programme, seperti waduk Marina Barrage yang berfungsi sebagai bendungan pengendali banjir.
  • Sistem prediksi banjir menggunakan sensor real-time di seluruh kota.

Singapura sukses menurunkan jumlah titik rawan banjir secara signifikan dalam dua dekade terakhir. Di Negara ini, terdapat juga tangki penahan Stamford yang dapat menampung hujan dengan volume setara dengan 15 kolam renang ukuran olimpiade. (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update