Senin, 19 Januari 2026

Saat “Mandok Hata” di Malam Tahun Baru Keluarga Mengucapkan Hal Menyinggung? Begini Cara Menjawabnya Menurut Para Pakar

Berita Terkait

Batampos – Saat meja makan telah tertata dan keluarga mulai berkumpul merayakan malam Natal atau pergantian tahun, banyak orang sudah bisa menebak komentar atau pertanyaan sensitif apa yang akan muncul.

ILUSTRASI kumpul keluarga di malam natal atau malam tahun baru. F CNN

Mulai dari komentar soal makanan, berat badan, uang, hubungan, pekerjaan, hingga urusan anak. Situasi ini sangat umum terjadi, apalagi di keluarga Batak yang terkenal dengan tradisi Mandok Hata (Ibadah ucapan syukur akhir tahun menuju awal tahun baru dengan pidato dari mulai yang terkecil dan ditutup dengan pernyataan orang tua).

Menurut psikolog asal Connecticut, Amerika Serikat, Dr. Roseann Capanna-Hodge, bagi banyak orang, musim liburan Natal dan tahun baru justru bukan masa paling menyenangkan. Bukan karena perayaannya, tetapi karena mereka sudah mengantisipasi konflik atau pertanyaan pribadi yang tidak pantas. Alih-alih memendam kemarahan atau meledak secara emosional, Capanna-Hodge menyarankan untuk menetapkan batasan atau boundaries sejak awal.

BACA JUGA:
Tanggal Merah dan Cuti Desember 2025: Jadwal Lengkap Libur Akhir Tahun

Pelatih boundaries asal Utah, Kami Orange, mengatakan, menetapkan batasan bukan berarti mencari masalah. “Ini hanyalah cara mengungkapkan kebutuhan dan kenyamanan pribadi. Namun, boundaries memang tidak mudah dan dibutuhkan persiapan agar seseorang dapat merespons dengan tenang, bukan bereaksi secara impulsif,” ujar Kami seperti dilansir dari CNN.

Rencanakan Sebelum Berkumpul

Dalam menetapkan batasan, langkah pertama adalah membuat rencana. Jennifer Rollin, terapis yang juga pendiri The Eating Disorder Center di Maryland menyebutkan, sebelum acara berlangsung, pikirkan apa saja kebutuhan Anda dan komentar seperti apa yang mungkin memicu perasaan negatif.

“Putuskan sebelumnya, komentar apa yang memicu saya, dan jawaban apa yang bisa saya siapkan,” ujar Rollin.

Capanna-Hodge menambahkan, penting juga menentukan tujuan pribadi pada malam itu. Anda mungkin tidak bisa memperbaiki konflik keluarga bertahun-tahun, tetapi Anda tetap bisa menikmati waktu bersama keponakan atau berbincang dengan kakak yang jarang Anda temui.

Ia menegaskan, “Anda tidak akan menyelesaikan 30 tahun masalah keluarga di meja makan saat malam Natal atau di ruang keluarga saat pergantian tahun”

Jadi, guna menghindari konflik, siapkan daftar topik aman yang bisa Anda alihkan ketika percakapan atau acara mulai memasuki wilayah sensitif seperti:

“Kenapa belum menikah. Kapan?”

“Jangan terlalu pilih-pilih soal pasangan.”

“Sudah hamil? Ayo usaha biar segera punya anak.”

“Jangan fokus ke karir. Siapa pacarmu sekarang?”

Percakapan pra-liburan tentang apa yang boleh atau tidak boleh dibahas juga bisa membantu.

Gunakan pernyataan dengan sudut pandang diri sendiri seperti: “Aku tidak bisa membicarakan topik ini saat kita berkumpul karena membuatku tidak nyaman” Cara ini terdengar lebih lembut dan tidak menyalahkan.

Lantas, bagaimana cara menjawab pertanyaan atau ungkapan sensitif itu? Ikuti cara ini:

– “Kamu yakin mau tambah porsi lagi?”

Komentar soal makanan dan berat badan, baik yang kritis maupun bermaksud baik, bisa sangat memicu. Capanna menyarankan, selalulah ingat komentar orang lain tentang makanan dan tubuh sering mencerminkan masalah mereka sendiri.

Anda bisa menjawab secara langsung:
“Aku mengerti kamu senang dengan dietmu, tapi aku sedang memperbaiki hubungan dengan makanan, jadi aku tidak ingin membahas itu.”

Atau menjawab dengan ringan, misalnya:
“Aku bersyukur tubuhku bekerja keras untukku setiap hari.”
“Aku tidak fokus pada berat badan.”

Jika percakapan tetap berlanjut ke arah body shaming, Anda berhak meninggalkan percakapan tersebut.

– “Kok masih single? Kapan Nikah?

Menurut Orange, untuk pertanyaan soal status hubungan, berikan dua kesempatan. Pertama, alihkan ke topik yang mereka sukai.

Jika ditanya lagi, gunakan jawaban lembut dan tidak mengundang perdebatan:
“Kalau aku sudah tahu jawabannya, pasti kuberitahu.” atau Anda juga bisa menyediakan jawaban humor seperti “Siapkan saja kadomu yang paling besar atau amplop yang paling banyak. Anda akan segera kuberi tahu ketika sudah tiba waktunya”

Jika sedang berbicara empat mata, Anda dapat menetapkan boundaries dengan mengatakan:
“Aku tahu maksudmu (X), tapi dampaknya (Y) membuatku tidak nyaman, jadi ke depannya tolong jangan tanyakan itu lagi.”

Jika mungkin, arahkan juga apa yang bisa mereka lakukan agar lebih mendukung.

– “Kapan menikah? Kapan punya anak?”

Komentar ini sering muncul dari rasa ingin tahu atau cinta. Anda dapat mengalihkan percakapan:
“Aku suka sekali kamu begitu bersemangat soal cinta dan keluarga. Ceritakan lagi dong, bagaimana dulu kamu bertemu paman”

Namun pertanyaan ini bisa sangat menyakitkan, terutama bila seseorang tengah mengalami masalah kesuburan. Pakar fertilitas Rachel Gurevich menyarankan agar pasangan terlebih dahulu mendiskusikan batas keterbukaan. Anda bisa menutup percakapan dengan jelas:

“Aku tidak ingin membahas itu.”
Atau dengan humor “Aku yakin kamu tidak mau tahu hal yang terlalu pribadi itu.”

Jika Anda percaya pada orang yang bertanya, Anda juga bisa memilih untuk terbuka dan meminta dukungan.

Jika semua usaha sudah dilakukan tetapi suasana tetap tidak menyenangkan, meninggalkan situasi bisa menjadi batasan paling efektif. Anda bahkan bisa memutuskan sebelumnya alasan sopan untuk pergi ketika mulai merasa tidak nyaman. (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Update