Minggu, 25 Januari 2026

Pameran Dinosaurus Terbesar di Science Centre dan Sensasi Musim Dingin di Snow City

Berita Terkait

Replika Patagotitan Mayarum, dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan manusia di Argentina, kini hadir di Science Centre Singapura. F. Ratna Irtatik/Batam Pos.

batampos – Lorong temaram bermotif batuan langsung menangkap perhatian begitu pengunjung melangkah memasuki salah satu sudut wahana di Science Centre Singapura, Selasa (18/11/2025) lalu.

Cahaya redup mengalir di sepanjang dinding kecoklatan yang menggambarkan alur waktu, seolah membawa siapa pun kembali ke masa ratusan juta tahun lalu, ketika bumi masih berupa lautan luas dengan organisme sederhana yang mengambang di dalamnya. Suasana itu menjadi pengantar yang halus, mengingatkan bahwa kehidupan besar selalu berawal dari yang amat kecil.

Di ujung lorong sejarah tersebut, terbentang ruang utama pameran bertajuk DINOSAURS | EXTINCTIONS | US, hasil kolaborasi Science Centre Singapura dengan Lee Kong Chian Natural History Museum dan Faculty of Science, National University of Singapore (NUS), Singapura.

Berada di area seluas 3.000 meter persegi, pameran ini merangkum dua ekshibisi internasional: Dinosaurs of Patagonia dari Museo Paleontológico Egidio Feruglio, Argentina, dan Six Extinctions dari Gondwana Studios, Australia. Semua tersaji untuk memperlihatkan bagaimana kehidupan berevolusi, bertahan, dan pada akhirnya menghadapi kepunahan massal.

Begitu memasuki ruangan, satu sosok langsung menguasai pandangan: Patagotitan Mayorum, dinosaurus sepanjang 40 meter dengan bobot diperkirakan 57 ton. Replika raksasa ini berdiri megah dengan leher menjulang hingga hampir menyentuh atap.

Berada di bawah bayangannya menghadirkan sensasi seakan tengah berdiri di tanah purba Patagonia, mendengar dentuman langkah makhluk terbesar yang pernah berjalan di muka bumi.

Fosil Patagotitan yang ditemukan tahun 2014 inilah yang membuka kembali jendela pengetahuan tentang raksasa sejati dari Argentina.

“Setiap fosil menyimpan kisah penemuan dan ketekunan. Melalui Dinosaurs of Patagonia, kami ingin mengajak dunia melihat bagaimana sains menghubungkan kita dengan masa lalu—dan dengan planet yang kita tinggali,” ujar Dr. Rubén Cúneo, Direktur Museo Paleontológico Egidio Feruglio.

Beberapa langkah dari sang raksasa herbivora, tampak sosok predator legendaris Tyrannosaurus Rex atau yang kemudian dijuluki “Scotty”. Replika sepanjang 13 meter itu seolah hidup kembali dengan rahang menganga dan reputasinya sebagai pemburu paling ditakuti di era Kretaseus.

Kontras dua makhluk purba ini, raksasa pemakan tumbuhan dan predator penghancur tulang, menggambarkan dinamika kehidupan yang pada akhirnya tunduk pada kekuatan alam: kepunahan massal.

Perjalanan pengunjung kemudian diarahkan ke masa kini. Kurasi dari Lee Kong Chian Natural History Museum menghadirkan kisah pelatuk raksasa great slaty woodpecker, burung yang pernah hidup di Singapura namun lenyap akibat hilangnya pepohonan tua tempat ia bersarang.

Kini, jika terlihat sekalipun, para ahli meyakini itu hanyalah pengembara dari Malaysia. Narasi ini menohok, bahwa kepunahan bukan hanya cerita purba, melainkan kenyataan yang berlangsung di sekitar kita.

“Dengan menyoroti spesies yang hilang dan tantangan keanekaragaman hayati hari ini, kami ingin mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari penyebab sekaligus bagian dari solusi,” kata Daniel Tan, Senior Project & Exhibitions Division Science Centre Singapura.

Ia menambahkan, pameran ini sangat tepat bagi keluarga dan pelajar, terlebih berlangsung pada periode libur akhir tahun. Selain memuat informasi ilmiah yang mendalam, seluruh instalasi dirancang agar edukatif sekaligus menyenangkan.

Pengalaman pengunjung dirancang interaktif. Ada Test Your Strength yang menantang pengunjung mengadu kekuatan dengan para raksasa, Imagine Dinosaurs yang memungkinkan menambahkan otot dan warna pada kerangka dinosaurus, serta Digital Fossil Dig, permainan menggali fosil digital berbasis waktu. Di sudut lain, pengunjung bisa mengumpulkan cap dari stamping stations untuk mengungkap ilustrasi prasejarah yang menarik.

Menurut Ms Tham Mun See, Chief Executive Science Centre Board, pesan utama pameran ini adalah kesadaran akan nilai kehidupan.

“Melalui fosil-fosil menakjubkan dan pengalaman imersif, kami ingin membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus mendorong tindakan nyata menghadapi krisis keanekaragaman hayati saat ini,” ujarnya.

Pameran DINOSAURS | EXTINCTIONS | US telah dibuka sejak 11 Oktober 2025 di Annexe, Science Centre Singapura, dan berlangsung hingga awal tahun depan. Tiket reguler mulai dari 39.90 dolar Singapura (sekitar Rp508 ribu) untuk dewasa, dan 35.90 dolar Singapura (sekitar Rp457 ribu) untuk anak-anak.

Lanjutkan ke Dunia Salju: Pengalaman Musim Dingin di Snow City

Masih di dalam kawasan Science Centre, pengalaman musim dingin menanti di Snow City. Suhu dingin dan hamparan salju asli, bukan buatan dari busa sabun, menghadirkan sensasi seolah berada di negeri empat musim. Anak-anak dapat membuat snowman dengan tambahan 10 dolar Singapura untuk mendapatkan perlatan lengkapnya.

Di lantai dua, Kampung Natal atau A Little Christmas Village menampilkan dekorasi bergaya Eropa yang hangat. Sementara itu, pecinta adrenalin bisa mencoba Giant Luge, wahana seluncur es permanen dengan suhu mencapai minus 8 derajat celcius.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman musim dingin bagi keluarga yang belum sempat berlibur ke negara bersalju,” ujar Norazani Shaiddin, General Manager Snow City.

Pemahat es membuat dekorasi menyambut libur Natal dan Tahun Baru 2026 di Snow City Singapura. F. Ratna Irtatik/Batam Pos.

Selama periode 1–31 Desember, wisatawan pemegang paspor Indonesia mendapat diskon 30 persen untuk pembelian hingga lima tiket dalam satu keluarga.

Pada 25 Desember, suasana semakin meriah dengan Christmas Carol dan acara spesial meet and greet Santa Claus dari Rusia, menghadirkan karakter Natal yang lebih autentik dan berbeda dari biasanya.

“Kami juga tetap menampilkan koleksi patung es warna-warni bagi pengunjung yang ingin berfoto,” tambah Norazani.

Dari raksasa zaman purba hingga butiran salju yang lembut, kawasan ini menawarkan dua pengalaman sekaligus, edukasi mendalam dan hiburan keluarga yang menyenangkan. Liburan akhir tahun pun terasa lengkap. (*)

Reporter: Ratna Irtatik 

Update