Minggu, 25 Januari 2026

Konsumsi Alpukat Dapat Menurunkan Risiko Diabetes

Berita Terkait

Alpukat salah satu buah yang kaya akan protein alami. Bagus untuk kesehatan tubuh. (Ahmad Fahrizal untuk Jawa Pos)

batampos – Alpukat dikenal sebagai buah super yang kaya akan lemak sehat, serat, dan antioksidan. Namun kini, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa manfaatnya mungkin lebih besar dari yang selama ini kita kira.

Penelitian terkini mengungkap bahwa konsumsi alpukat secara rutin dapat menurunkan risiko diabetes, terutama pada wanita. Meski begitu, para ahli tetap menekankan pentingnya pola makan seimbang secara keseluruhan, bukan hanya fokus pada satu jenis makanan.

Dilansir melalui Medical News Today, terdapat sebuah penelitian dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics yang menyoroti hubungan antara konsumsi alpukat dan risiko diabetes pada orang dewasa di Meksiko. Negara ini mencatat diabetes sebagai penyebab kematian kedua tertinggi, dengan sekitar 15,2% populasi dewasa atau lebih dari 12 juta orang mengidap penyakit tersebut.

Para peneliti menganalisis data dari Survei Kesehatan dan Gizi Nasional Meksiko (ENSANUT) tahun 2012, 2016, dan 2018, mencakup lebih dari 25.000 partisipan berusia 20 tahun ke atas. Setelah menyaring peserta dengan data yang tidak lengkap atau kondisi tertentu seperti kehamilan, diperoleh sampel akhir yang cukup representatif.

Sekitar 59% responden adalah wanita, dan lebih dari 60% mengalami obesitas perut. Melalui kuesioner konsumsi makanan selama tujuh hari, peserta diklasifikasikan sebagai konsumen alpukat atau bukan. Diagnosis diabetes didasarkan pada laporan diri dan sebagian diverifikasi melalui pemeriksaan kadar gula darah.

Hasil Menarik: Wanita yang Mengonsumsi Alpukat Lebih Terlindungi

Dari seluruh peserta, sekitar 45% melaporkan rutin mengonsumsi alpukat, dengan rata-rata asupan harian 34,7 gram pada pria dan 29,8 gram pada wanita. Menariknya, konsumen alpukat cenderung memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi dan berasal dari kelas sosial ekonomi yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alpukat. Lebih dari tiga perempat konsumen alpukat juga tinggal di wilayah perkotaan.

Selain itu, mereka menunjukkan skor indeks pola makan sehat yang lebih tinggi, menandakan kebiasaan makan yang lebih baik secara keseluruhan. Namun, analisis lanjutan memperhitungkan faktor-faktor tersebut agar hasilnya lebih akurat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang mengonsumsi alpukat memiliki risiko 22% lebih rendah terkena diabetes sebelum penyesuaian variabel, dan 29% lebih rendah setelah penyesuaian. Efek perlindungan ini tidak ditemukan pada pria. Bahkan ketika diagnosis diabetes dikonfirmasi melalui laboratorium, hasilnya tetap konsisten.

Mengapa Alpukat Dapat Mengurangi Risiko Diabetes?

Menurut dr. Avantika Waring, ahli endokrinologi dan diabetes, terdapat beberapa mekanisme potensial yang menjelaskan manfaat alpukat terhadap risiko diabetes, terutama pada wanita.Kandungan antioksidan dalam alpukat dapat mengurangi peradangan dan kerusakan sel yang berpotensi memicu penyakit metabolik seperti diabetes.

Selain itu, alpukat memiliki indeks glikemik rendah karena mengandung lemak sehat dan serat tinggi, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara tiba-tiba.

Kandungan serat dan lemak baik dalam alpukat juga membantu menciptakan rasa kenyang lebih lama. Hal ini dapat menekan konsumsi makanan tinggi gula atau karbohidrat olahan yang menjadi pemicu utama kenaikan kadar gula darah.

Dr. Thomas M. Holland dari Rush University menambahkan bahwa alpukat kaya akan nutrisi yang dapat meningkatkan sensitivitas insulin, membantu menstabilkan kadar gula darah, dan memperlambat perkembangan diabetes. Namun, ia juga menyoroti bahwa penyebab efek perlindungan ini hanya muncul pada wanita masih perlu diteliti lebih lanjut.

Faktor Gender dan Risiko Diabetes

Perbedaan pengaruh alpukat terhadap pria dan wanita menjadi salah satu temuan menarik dalam penelitian ini. Para ahli menduga hal ini berkaitan dengan faktor hormonal dan fisiologis yang unik pada wanita. Misalnya, selama kehamilan, tubuh wanita secara alami menjadi lebih resisten terhadap insulin. Begitu pula saat menopause, penurunan kadar estrogen dapat mengubah distribusi lemak tubuh dan meningkatkan risiko diabetes.

Selain faktor biologis, aspek sosial dan psikologis juga turut berperan. Tekanan emosional, peran ganda dalam keluarga, serta akses terhadap makanan sehat bisa menjadi faktor tambahan yang memengaruhi risiko diabetes pada wanita.

Dr. Waring menekankan pentingnya penelitian lanjutan yang fokus pada intervensi gizi berbasis gender. Menurutnya, setiap tahap kehidupan wanita memiliki tantangan metabolik yang berbeda, sehingga strategi pencegahan penyakit seperti diabetes sebaiknya disesuaikan secara personal.

Haruskah Kita Lebih Banyak Makan Alpukat?

Meskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para ahli mengingatkan bahwa tidak bijak untuk bergantung pada satu jenis makanan saja dalam mencegah penyakit. Ahli gizi Eliza Whitaker menyebutkan bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan, terutama karena kelompok “konsumen alpukat” mencakup baik yang makan sesekali maupun yang sering. Hal ini membuat sulit menentukan seberapa banyak konsumsi yang benar-benar memberikan manfaat.

Menurutnya, pola makan secara keseluruhan jauh lebih berpengaruh daripada satu jenis makanan. Alpukat memang menyehatkan, tetapi harus dikombinasikan dengan sumber gizi lain seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, dan protein tanpa lemak untuk memberikan efek maksimal bagi metabolisme tubuh.

Dr. Holland menegaskan bahwa mengadopsi pola makan sehat seperti Mediterranean diet, DASH diet, atau MIND diet yang menggabungkan alpukat dan makanan utuh lain merupakan pendekatan terbaik untuk mencegah diabetes. Ia menekankan pentingnya gaya hidup sehat secara keseluruhan, termasuk aktivitas fisik rutin, manajemen stres, dan tidur cukup. (*)

SourceJPGroup

Update