Minggu, 25 Januari 2026

Ketahui Efek Strict Parenting pada Anak, dari Stres hingga Sifat Negatif

Berita Terkait

Stritch parenting
Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Setiap orang tua memiliki pola asuh berbeda-beda. Salah satu yang kerap dibicarakan adalah strict parenting atau pola asuh ketat.

Pola asuh ini ditandai dengan aturan tegas, harapan tinggi, namun minim respons emosional dari orang tua. Meski membuat anak tampak disiplin, gaya asuh ini tidak selamanya baik.

“Strict parenting mungkin mendatangkan ketaatan sementara, namun meningkatkan risiko stres beracun (toxic stress), depresi, penyalahgunaan zat, hingga gangguan jantung jangka panjang,” tulis UNICEF East Asia & Pacific, Jumat (22/8).

Berikut 7 efek strict parenting pada tumbuh kembang anak, dikutip dari Parents:

1. Risiko kesehatan mental – Anak hampir dua kali lipat berisiko mengalami kecemasan, depresi, hingga perilaku memberontak.

2. Hambatan kecerdasan sosial dan emosional – Anak lebih agresif, sulit mengatur emosi, dan cenderung impulsif.

3. Kurang percaya diri dan motivasi – Anak kesulitan mengambil keputusan dan kurang dorongan dari diri sendiri.

4. Kesulitan interaksi sosial – Anak mudah salah menafsirkan isyarat sosial, mudah tersinggung, hingga rentan terisolasi.

5. Konflik keluarga meningkat – Suasana rumah jadi tidak kondusif akibat aturan yang terlalu ketat.

6. Menurunkan kesejahteraan hidup – Anak cenderung menghindari masalah dan kesulitan mengelola emosi.

7. Membentuk sifat negatif di masa dewasa – Anak berpotensi mengembangkan sifat narsis, psikopat, hingga sadis.

Pola asuh ketat memang bisa membuat anak tampak patuh dan teratur. Namun, efek jangka panjangnya bisa membahayakan kesehatan mental hingga memengaruhi karakter di masa depan.

Ahli menekankan perlunya pola asuh yang lebih seimbang, dengan kombinasi aturan jelas dan kasih sayang, agar anak berkembang sehat secara fisik maupun emosional. (*)

Reporter: Juliana Belence 

Update