Selasa, 27 Januari 2026

Bukan Sekadar Gengsi, Ini 8 Alasan Psikologis di Balik Pembelian Barang Mewah

Berita Terkait

Ilustrasi belanja barang mewah. (Freepik)

batampos – Barang mewah mungkin menjadi impian sebagian orang. Membeli bawang mewah, seperti tas, sepatu, baju, atau perhiasan bisa dikatakan bahwa kita mampu.

Namun, membeli bawang mewah memiliki alasan psikologis. Beberapa orang tidak sadar alasan psikologis ini.

Ini 8 alasan psikologis di balik membeli barang mewah, dikutip dari Wired:

1. Simbol status sosial

Konsumsi barang mewah sering kali digunakan untuk menyampaikan status sosial dan prestise. Produk mahal berfungsi sebagai tanda keberhasilan dan kedudukan dalam hierarki sosial. Praktek ini mencerminkan fenomena snob effect, di mana permintaan barang unik atau mahal meningkat justru karena hanya beberapa yang bisa memilikinya.

2. Ekspresi diri dan identitas

Barang mewah menjadi sarana untuk mengekspresikan gagasan diri, nilai, dan gaya hidup.

3. Kepuasan emosional

Adanya pelepasan dopamin neurotransmitter yang memicu rasa senang dan kepuasan emosional dari membeli barang mewah.

4. Efek FOMO

Adanya edisi terbatas suatu produk menciptakan rasa urgensi untuk segera membeli. Motivasi ini didorong oleh rasa takut kehilangan kesempatan.

5. Pengaruh persepsi merek

Asosiasi positif terhadap merek dapat menciptakan bias persepsi. Reputasi baik merek akan membuat produk lain tetap dianggap berkualitas tinggi, walaupun belum pernah diuji langsung.

6. Pencapaian pribadi

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, seseorang akan mencari pencapaian diri. Barang mewah kerap dimaknai sebagai simbol kesuksesan.

7. Koneksi emosional & cerita merek

Produk mewah sering diperkaya dengan narasi sejarah, warisan, dan craftsmanship yang membanguin ikatan emosional mendalam antara konsumen dan merek.

8. Dorongan emosional

Konsumsi barang mewah dilakukan sebagai coping mekanisme untuk melampiaskan stres, kecemasan, dan rendah diri melalui belanja yang memberikan kebahagiaan sementara.

Membeli barang mewah nyatanya bukan sebagai kebutuhan. Barang mewah menjadi simbol kekayaan dan kasta sosial yang tidak pernah luntur. (*)

 

Reporter Juliana Belence

 

Update