
batampos – Stres merupakan perasaan yang umum dirasakan oleh kebanyakan orang dewasa. Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa perasaan ini dapat dirasakan juga oleh anak-anak dan remaja. Tekanan akademis, lingkungan, atau bahkan permasalahan keluarga dapat membuat anak merasa tertekan tanpa mampu menjelaskan apa yang ia rasa dengan jelas.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda stres sejak dini, serta memahami apa yang harus dilakukan untuk menangani emosional anak.
Dilansir dari American Psychological Association (APA), berikut beberapa cara untuk mengenali kemungkinan tanda stres pada anak-anak.
1. Waspadai jika ada perubahan perilaku negatif
Perubahan yang umum terjadi adalah ketika anak mudah tersinggung, terlihat lebih murung dari biasanya, menarik diri dari aktivitas yang biasanya ia sukai, lebih sering mengeluh tentang tugas sekolah daripada biasanya, menangis, tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit, dan makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Meskipun perubahan perilaku ini tidak selalu berkaitan dengan stres yang berlebihan, tetapi perubahan ini hampir selalu merupakan indikasi yang jelas bahwa ada sesuatu yang salah.
2. Rasa “sakit” mungkin disebabkan oleh stres
Tanda-tanda stres juga dapat muncul dalam gejala fisik, seperti sakit perut dan sakit kepala. Jika seorang anak terlalu sering ke perawat sekolah atau mengeluh sakit di bagian kepala atau perut padahal dokter menyatakan mereka sehat, maka ada kemungkinan anak tersebut mengalami stres.
3. Awasi bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain
Terkadang anak-anak atau remaja mungkin tampak bersikap biasa saja ketika berada di rumah. Namun, ia berperilaku tidak biasa ketika ia berada di luar rumah atau di lingkungan lain.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui perkembangan anaknya di lingkungan sekitar agar dapat memahami pikiran, perasaan, dan perilaku anak, jika ada yang dirasa aneh atau berbeda.
4. Dengarkan dan pahami bahasa mereka
Anak-anak sering kali tidak familiar dengan kata stres. Mereka mungkin mengungkapkan perasaan tersebut melalui kata-kata lain, seperti “bingung”, “kesal”, “marah”, atau “cemas”. Tidak jarang juga anak-anak atau remaja mengungkapkan perasaan stres dengan konotasi negatif, seperti “aku bodoh”, “tidak ada yang menyukaiku”, “tidak ada yang menyenangkan”. Kata-kata ini mungkin bisa mengarahkan orang tua untuk mengetahui sumber stres anak-anak.
Cara Mendampingi Anak atau Ramaja yang Mengalami Stres
Setelah mengetahui tanda-tanda stres pada anak atau remaja, penting bagi orang tua untuk memahami cara tepat dalam mendampingi mereka menghadapi kondisi tersebut.
Menurut Unicef Indonesia, anak-anak atau remaja pada dasarnya juga membutuhkan pengingat untuk mencintai diri sendiri, sama halnya seperti orang dewasa. Berikut ini beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu anak atau remaja saat mereka mengalami stres.
1. Membantu memahami perasaan stres
Bantu anak untuk mengenali rasa stres mereka. Kemudian orang tua dapat membantu anak mencari cara menanganinya dengan cepat dan tepat secara bersama-sama.
2. Menunjukan kasih sayang yang lebih
Berikan ruang aman untuk anak bercerita, dengarkan dan pahami mereka tanpa menghakimi. Dukungan emosional seperti ini dapat menjadi penenang sekaligus penguat bagi mereka.
3. Menguatkan kepercayaan diri anak
Sering kali rasa tidak percaya diri atau insecure memperburuk stres pada anak, terutama remaja. Di sini orang tua dapat menumbuhkan rasa optimisme pada anak. Dukungan positif dan tunjukan bahwa mereka berharga dapat membantu mereka melewati rasa stres tersebut.
4. Menjaga pola hidup sehat
Tidur yang cukup, melakukan aktivitas fisik secara rutin, dan mengurangi penggunaan smartphone akan sangat membantu menurunkan stres pada anak.
Setelah memahami tanda-tanda stres dan bagaimana cara menanganinya, diharapkan agar orang tua tidak lagi menganggap sepele perasaan anak dan mampu menjadi sumber dukungan terbaik bagi mereka. (*)
