
batampos – Fenomena unik kembali muncul dari China. Kali ini, tren yang ramai dibicarakan adalah layanan “kantor pura-pura” yang disewa para penganggur muda agar terlihat seperti bekerja.
Dilansir Firstpost, Rabu (13/8), layanan ini mematok biaya 30–50 yuan per hari atau sekitar Rp65 ribu–Rp113 ribu. Fasilitasnya lengkap, mulai dari meja kerja, Wi-Fi, ruang rapat, kopi, camilan, hingga bos palsu untuk menciptakan suasana kerja sungguhan.
Kantor pura-pura ini sudah hadir di kota-kota besar seperti Dongguan, Shenzhen, Shanghai, Chengdu, Wuhan, Nanjing, Kunming, dan Hangzhou.
Salah satu pengguna, Xiaowen Tang (23), bahkan menyewa ruang ini untuk pura-pura magang demi memenuhi syarat kelulusan universitas yang meminta bukti magang resmi.
“Fenomena ini seperti cangkang pertahanan diri untuk menjaga martabat di tengah ketidakpastian ekonomi,” kata Dr Biao Xiang dari Max Planck Institute.
Tren ini tumbuh karena banyak anak muda di China merasa malu dan cemas jika dianggap penganggur oleh keluarga atau lingkungan. Menyewa ruang kantor memberi kesan mereka produktif, meski sebenarnya tidak bekerja.
Fenomena ini mencerminkan beberapa kondisi di China:
1. Tingginya angka pengangguran yang menekan psikologis dan sosial, terutama di kalangan muda berpendidikan tinggi.
2. Munculnya solusi tidak konvensional demi mempertahankan rutinitas dan citra normal di masyarakat yang menjunjung tinggi kerja serta prestasi.
3. Kesenjangan antara harapan pendidikan dan ketersediaan lapangan kerja.
Pakar menilai, pendekatan melalui konseling dan dukungan keluarga dibutuhkan agar tren ini perlahan menghilang.
Reporter: Juliana Belence
