
batampos – Teh tarik bukan sekadar minuman penghilang dahaga di Tanjungpinang, Kepulauan Riau. Lebih dari itu, minuman cokelat keemasan bercampur buih ini menyimpan sejarah panjang dan kini jadi identitas kuliner khas yang menjunjung tradisi sekaligus inovasi.
Aroma teh pekat bercampur susu kental manis keluar dari sebuah kedai kecil di kawasan Jalan Ganet, Tanjungpinang. Seorang pria mengenakan celemek tampak lincah menarik cairan cokelat keemasan dari satu canting ke canting lain. Gerakannya cepat, ritmis, menciptakan buih yang menggoda di permukaan teh.
“Minuman ini bukan sekadar teh. Ia punya cerita,” kata Raja Hanafi, pemilik Kedai Teh Tarik Bang Raja, kepada batampos, Rabu (6/8/2025).
Menurut pria yang akrab disapa Bang Raja itu, teh tarik telah menjadi bagian dari budaya sejak ratusan tahun lalu. Diperkirakan dibawa oleh perantau India dan Melayu pada 1800-an, teh tarik menyebar dari kawasan Kota Lama hingga ke sudut-sudut kota.
“Tarikan teh itu bukan hanya mendinginkan, tapi juga seni. Di situ ada kehangatan, ada kebersamaan,” ujarnya.
Kini, teh tarik hadir dalam berbagai varian, dari teh tarik klasik, jahe, cincau, matcha, hingga kopi tarik. Namun bagi Bang Raja, esensi teh tarik tetap pada proses tarikannya.
“Siapkan air mendidih, dua sendok pati teh, campur dengan susu kental manis. Lalu tarik selama dua menit, biar buihnya keluar sempurna,” jelasnya.
Harga segelas teh tarik di kedainya ramah di kantong, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu tergantung varian. Tapi yang membuatnya unik, Bang Raja kini menghadirkan program edukasi menabung emas lewat teh tarik.
Setiap pembelian lima gelas, pelanggan mendapatkan 1 keping emas Antam seberat 0,01 gram. Jika terkumpul 50 keping, bisa ditukar dengan 0,5 gram emas di kedainya, baik di Jalan Masjid maupun di Jalan Ganet.
“Penjual dan pembeli sama-sama untung. Ini bukan cuma minum teh, tapi investasi kecil yang bernilai,” tutup Bang Raja. (*)
Reporter: Yusnadi Nazar
