Minggu, 25 Januari 2026

Tren Self Care Unik, Empeng Dewasa Jadi Andalan Redakan Stres di China

Berita Terkait

Empeng bayi
Ilustrasi. F. Freepik

batampos – Empeng yang selama ini dikenal sebagai kebutuhan bayi, kini tengah menjadi tren tak biasa di China. Alih-alih digunakan oleh bayi, empeng justru dipakai oleh orang dewasa sebagai alat pereda stres.

Fenomena ini mencuri perhatian warganet dan menuai berbagai reaksi unik di media sosial. Banyak yang menganggapnya lucu, tak sedikit pula yang menyindir kebiasaan tersebut sebagai bentuk keanehan. Namun, tren empeng dewasa ini ternyata cukup populer dan banyak peminatnya.

Dikutip dari quasa.io, Senin (4/8), empeng yang digunakan berbentuk seperti empeng bayi, namun dirancang khusus untuk orang dewasa dengan ukuran lebih besar dan warna-warna mencolok.

“Ini bukan tren musiman saja. Orang-orang beli dalam jumlah banyak. Bahkan banyak pelanggan yang kembali lagi,” tulis salah satu penjual di marketplace seperti Taobao dan JD.com.

Empeng dewasa ini dijual dengan harga bervariasi, mulai dari 10 yuan hingga 450 yuan atau sekitar Rp20 ribu hingga Rp900 ribu.

Para analis pasar menyebut, tren ini merupakan bagian dari gerakan self care dan gaya hidup sehat yang sedang naik daun, terutama di kalangan masyarakat urban yang mengalami tekanan kerja tinggi dan kelelahan mental.

Adapun manfaat penggunaan empeng dewasa antara lain:

  • Memberikan efek tenang dan nyaman, seolah kembali ke masa kecil
  • Menumbuhkan rasa nostalgia dan ketenangan emosional
  • Membantu mengurangi kecemasan, meningkatkan kualitas tidur, dan mendukung konsentrasi

Namun, penggunaan empeng oleh orang dewasa tidak lepas dari kritik. Beberapa ahli kesehatan memperingatkan potensi risiko penggunaan jangka panjang terhadap kesehatan gigi dan psikologis.

“Konsumsi berlebihan bisa mengubah struktur gigitan, bahkan menimbulkan ketergantungan secara psikologis,” tulis sejumlah pakar kesehatan dalam laporan quasa.io.

Tren empeng dewasa ini disebut sebagai refleksi dari tekanan sosial yang meningkat, seperti urbanisasi, budaya kerja yang padat, hingga meningkatnya kebutuhan akan metode relaksasi alternatif di tengah tuntutan hidup modern. (*)

Reporter: Juliana Belence 

Update