Senin, 26 Januari 2026

Cara Bangkit dari Rasa Minder Berkepanjangan

Berita Terkait

Ilustrasi

batampos – Rasa minder bisa hadir kapan saja, setelah gagal berbicara di depan umum, dibandingkan dengan orang lain, atau bahkan saat diberi pujian. Perasaan tidak percaya diri yang menetap ini bukan hanya mengganggu hubungan sosial, tapi juga bisa menghambat pencapaian dan pertumbuhan pribadi dalam jangka panjang.

Namun menurut Vanessa Van Edwards, peneliti perilaku manusia dan pendiri Science of People, rasa minder sebenarnya bukan masalah karakter yang permanen. Dalam video edukatif berjudul The Psychological Tricks to Overcome Insecurity and Self-Doubt yang diunggah ke kanal YouTube resminya, ia menjelaskan bahwa minder adalah hasil dari kebiasaan berpikir yang terus dipelihara dan itu bisa dilatih ulang secara psikologis.

Vanessa menekankan pentingnya mengubah cara berbicara kepada diri sendiri, karena banyak orang secara tidak sadar mengulang kalimat yang merendahkan nilai diri. Ketika hal ini menjadi kebiasaan, otak mulai mempercayai bahwa kita memang “tidak cukup baik”, padahal realitanya tidak seperti itu.

Strategi Psikologis untuk Bangkit dari Rasa Minder:

1. Ganti Pola Self-Talk Negatif dengan Narasi Baru

Ucapan dalam hati seperti “aku bodoh” atau “aku pasti gagal” harus diubah dengan kalimat yang lebih konstruktif, misalnya “aku sedang belajar” atau “aku belum bisa, tapi akan terus mencoba.”

2. Visualisasi Diri dalam Versi Terbaik
Teknik future self visualization, yaitu membayangkan diri kita berhasil menghadapi situasi sulit. Ini membantu membentuk kepercayaan sebelum pengalaman itu benar-benar terjadi.

3. Tantang Diri dalam Skala Kecil tapi Konsisten

Misalnya, mencoba menyapa orang baru, memberikan opini dalam rapat, atau mem-posting sesuatu yang selama ini ditahan. Tindakan kecil ini memberi bukti nyata bahwa kita bisa melampaui rasa takut.

4. Jaga Bahasa Tubuh yang Terkendali dan Terbuka

Bahasa tubuh yang membungkuk atau menghindari kontak mata memperkuat rasa minder. Postur tegak, napas stabil, dan gestur terbuka bisa memberi sinyal ke otak bahwa kita cukup kuat.

5. Bangun Lingkungan yang Mendukung
Lingkungan yang suportif membantu menumbuhkan kembali rasa aman dan validasi yang sehat. Hindari terlalu lama berada dalam situasi yang membuatmu terus merasa “kurang.”

Rasa minder bukan tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa ada bagian dari diri yang perlu dilatih ulang. Dengan pendekatan psikologis yang tepat, seperti yang disampaikan Vanessa Van Edwards, kita bisa melatih otak untuk mengubah keraguan menjadi keyakinan, bukan dengan berpura-pura kuat, tapi dengan mengenali pola pikir lama dan membangunnya ulang secara sadar. (*)

SourceJPGroup

Update